Skip to content
September 27, 2014 / togastola

GEREJA KRISTEN SUMBA

GEREJA KRISTEN SUMBA

GKS

SEJARAH LAHIR

Hari lahir GKS bertepatan dengan pelaksanaan Sidang Sinode yang pertama pada 15 Januari 1947. GKS merupakan hasil Pekabaran Injil dari Zending GKN sejak tahun 1881. Sejarah PI di Sumba dapat dibagi dalam 3 periode, yaitu: periode perintisan (1881-1902); periode pelatakan dasar (1902-1947), dan periode berdiri sendiri (1947-sekarang). Sejak berdiri sendiri, GKS mengalami berbagai dinamika dalam pelayanannya, terutama dalam bidang dana, daya, dan teologia, khususnya dalam tahap-tahap awal yang masih sangat banyak tergantung kepada GKN. Namun secara bertahap bantuan GKN dapat dikurangi, dan GKS menggalang potensi warga jemaat sendiri dalam pekerjaan misi pelayanan. GKS tidak hanya melakukan PI, tetapi juga turut serta mengembangkan pendidikan, kesehatan, dan mengembangkan kesejahteraan ekonomi masyarakat seperti pertanian.

PGI menerima Gereja Kristen Sumba sebagai anggota ke-18 (delapan belas) dalam sidang raya PGI di kota Makkasar. PGI menerima GKS menjadi anggota PGI pusat pada 25 Mei 1950. PGIW/PGI Wilayah NTT menerima GKS sebagai bagian dari mereka pada 30 April 1952.

STATISTIK GEREJA

Jumlah gereja/jemaat: 712 gereja

Jumlah Jemaat: 400 jemaat

Jumlah Kelompok Kebaktian: 150 kelompok

Jumlah Pos Kebaktian: 700 pos kebaktian

Jumlah anggota jemaat: 596.500 jiwa

Jumlah pendeta: 300 orang

Jumlah pelayan lainnya : 1656 orang (Guru Injil; Vicaris; Penolong Guru Injil)

WILAYAH PELAYANAN

WIlayah pelayanan GKS tidak begitu luas dan utamanya hanya mengemban misi di Pulau Sumba. Berikut wilayah pelayanan GKS:

  • Sumba

meliputi Sumba Utara, Sumba Selatan, Sumba Barat, dan Sumba Timur

  • Flores

meliputi Kabupaten Sikka dan Flores Timur

  • Rote-Ndao

meliputi Pulau Rote dan Pulau Ndao

  • Timor

meliputi Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

  • luar NTT

meliputi Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Tenggara

KANTOR PUSAT: Jl. R. Suprapto No. 23 Waingapu 87113 Sumba – NTT . Telp. 0387-61342; Fax. 62279

Sumber: http://www.wikipedia.org

March 23, 2014 / togastola

KEPRIBADIAN PHLEGMATIS

Tipe Kepribadian Phlegmatis
Orang phlegmatis adalah tipe orang yang paling menyenangkan untuk dijadikan kawan. Berlawanan dengan orang koleris yang keras dan sangat menuntut, orang phlegmatis adalah orang yang manis, tidak mendesak, dan tidak suka memerintah.

Mereka mempunyai sikap pemalu dan tidak suka menonjolkan diri. Mereka menyukai keramaian dan sosialisasi, sejauh keramaian itu tidak berpusat pada diri mereka. Orang phlegmatis adalah orang yang sopan dan mempunyai aturan yang baik dalam pergaulan.

Orang phlegmatis tidak suka dengan konflik dan pertentangan. Mereka lebih senang memberikan dukungan dan melayani serta setuju dengan pendapat orang lain. Dalam setiap pertengkaran atau perbedaan pendapat, orang phlegmatis adalah penengah yang baik, karena mereka tidak mudah tersinggung.

Berbeda dengan orang sanguin yang terbuka dan suka berbicara, orang phlegmatis tertutup walaupun mereka senang bersosialisasi. Mereka juga pendengar yang baik dengan selera humor yang menggigit.

Dalam mengerjakan suatu pekerjaan, orang phlegmatis hanya bisa mengerjakan satu hal dalam satu waktu tertentu. Mereka tidak bisa mengerjakan banyak hal secara bersamaan. Orang phlegmatis mampu dan senang mengerjakan pekerjaan yang bersifat monoton dan berulang serta tidak banyak variasi – itu akan sangat membosankan bagi orang sanguin dan koleris.

Selain tertutup, orang phlegmatis adalah orang sangat baik dalam menyimpan rahasia. Bila mereka sudah berjanji untuk menyimpan suatu rahasia, maka mereka tidak akan pernah mau dengan sengaja menceritakan rahasia itu kepada orang lain.

Orang phlegmatis sangat baik dalam menerima perintah. Satu hal yang sangat sulit dilakukan oleh mereka adalah berkata ”tidak.” Mereka memiliki sifat menyerah dan suka menyenangkan orang lain. Mereka akan berusaha melakukan apa yang diinginkan oleh orang lain. Sifat tidak tegas ini sering kali disalahgunakan oleh orang dengan tipe kepribadian lain untuk memanfaatkan atau memanipulasinya. Mereka bisa dengan mudah dibujuk untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan, atau membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Ini semua karena mereka ingin menyenangkan orang lain dan menghindari konflik.

Orang phlegmatis suka akan hal yang sama atau status quo. Ini disebabkan mereka senang dengan keadaan, bila mereka bisa mendapatkan kestabilan. Mereka tidak menyukai kejutan. Itulah sebabnya mereka senang makan di tempat yang sama, menonton film di tempat yang sama, mengunjungi tempat hiburan yang sama, menginap di hotel yang sama, memesan menu makanan yang sama, pergi ke pusat perbelanjaan yang sama, dan hal-hal yang sama lainnya.

Orang phlegmatis bersifat sentimental. Mereka biasanya akan menyimpan surat-surat lama, foto kenangan, surat cinta, tanda kenangan, dan buku-buku lama. Semua ini berguna untuk mengenang masa-masa lalu mereka yang menyenangkan dan penuh arti. Jumlah orang phlegmatis dalam masyarakat berkisar 30 % – 35 % dari total populasi.

Orang phlegmatis mempunyai kebutuhan mendasar penghargaan dan penerimaan. Mereka akan sangat bahagia bila kedua kebutuhan ini bisa mereka dapatkan. Mereka juga tidak banyak menuntut. Karena mereka tidak terlalu menuntut, mereka dapat menerima hidup apa adanya. Orang phlegmatis adalah orang yang tenang dan bahagia hidupnya.

Berkawan dengan orang phlegmatis sangatlah menyenangkan karena mereka adalah orang yang rendah hati, sabar, dan simpatik. Mereka mempunyai rasa simpati dan empati yang besar terhadap penderitaan orang lain.

Sebagai orng tua, orang phlegmatis adalah orang tua yang baik, sabar, dan selalu menyediakan waktu bagi anak. Mereka tidak pernah tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu. Mereka bisa menerima anak mereka seperti apa adanya dan bisa mengambil yang baik dari suatu kejadian yang kurang baik atau buruk.

1. Kekuatan Pribadi Phlegmatis

Orang phlegmatis mudah bergaul. Mereka senang menjalani kehidupan yang tenang dan dalam kecepatan yang tetap.

Orang phlegmatis dapat diandalkan. Mereka suka dengan rutinitas karena hal ini membuat mereka merasa nyaman. Mereka tidak suka dengan kejutan. Mereka melakukan sesuatu dengan metode yang baku, teruji, dan standar tanpa banyak variasi. Setelah melakukan suatu tugas beberapa kali ( berulang ), maka cara kerja itu akan segera menjadi cara kerja standar mereka dan mereka cenderung untuk tidak mau mengubahnya.

Orang phlegmatis memilki sifat teratur dan efisien, mereka lebih suka mengetahui bahwa suatu keadaan berjalan dengan baik. Di samping itu mereka sangat praktis. Mereka selalu mencari solusi yang paling sederhana dari setiap masalah yang dihadapi.

Orang phlegmatis juga bersikap konservatif. Mereka suka berpegang pada hal-hal yang mereka tahu akan berhasil Pakaian, prilaku, agama, politik, investasi usaha, dan lain-lain, semuanya itu dilakukan dengan dasar konservatif ( sangat berhati-hati ).

Orang phlegmatis adalah tipe diplomat. Mereka dapat melihat berbagai hal dari sudut pandang orang lain. Mereka juga sangat sabar dan juga bisa sangat humoris. Dengan kesabaran, simpati, empati, dan ketenangan yang dimilikinya, orang phlegmatis bisa menjadi pemimpin yang hebat dan disenangi oleh bawahannya.

2. Kelemahan Pribadi Phlegmatis

Seperti tipe kepribadian lainnya, kelemahannya hanya timbul saat kekuatannya digunakan secara berlebihan sehingga terjadi penyalahgunaan. Perlu diketahui, aktivitas kita hampir salalu didasarkan pada kekuatan yang kita miliki. Kita akan berada dalam suatu zona kenyamanan ( comport zone ) saat aktivitas kita sesuai dengan perasaan dan kepribadian kita. Nah, orang phlegmatis merasa paling nyaman bila bisa beraktivitas sebagai individu pemalu, lembut, stabil, mantap, manis, sentimentil, dan menerima.

Orang phlegmatis kadang kala bisa menjadi penakut. Mereka tidak suka dengan situasi yang tidak mereka kenal. Mereka lebih senang dengan hal-hal yang telah terbukti bisa berjalan. Dengan kata lain, mereka ingin mengetahui hasilnya sebelum mereka memulainya.

Orang phlegmatis bisa sangat plinplan. Saat Anda mengajukan satu pertanyaan, mereka biasanya akan memberikan dua atau tiga jawaban. Mereka tidak senang membuat kesalahan, dan mereka juga tidak ingin menimbulkan ketidakharmonisan. Mereka akan memberikan jawaban yang mereka pikir ingin Anda dengar. Jika Anda bertanya ”mau makan di mana ?,” mereka mungkin akan menjawab, ”di mana saja boleh” atau ”terserah.” Sebenarnya mereka tidak ingin memberikan jawaban yang nantinya ternyata membuat Anda tidak senang. Jadi, mereka main aman saja. Ingat, sama seperti orang sanguin, orang phlegmatis suka menyenangkan orang lain.

Jadi, saat seorang phlegmatis bersikap agak plinplan, maka bersabarlah. Ajukan lagi pertanyaannya dengan penuh kesabaran dan rasa cinta kasih. Pasti mereka akan memberikan jawaban sesuai dengan kehendak mereka.

Alasan lain mengapa orang phlegmatis kelihatannya plinplan adalah karena mereka lebih suka dengan jawaban atau keputusan yang mempunyai hasil yang dapat diperkirakan. Jika mereka tidak tahu bagaimana pilihan mereka akan mempengaruhi orang lain, maka mereka akan ”membeku” dan berusaha menunda membuat keputusan. Ini bukan karena mereka tidak bisa membuat suatu keputusan – mereka sebenarnya tidak ingin melihat orang lain terluka atau tertinggal karena keputusan mereka itu.

Orang phlegmatis adalah tipe penonton – kurang aktif dan kurang berinisiatif. Mereka lebih suka berada di belakang layar dan tidak senang menjadi pusat perhatian.

Orang phlegmatis juga cenderung mencari selamat. Mereka takut mendapat malu. Karena mereka begitu sulit untuk mengatakan ”tidak” kepada orang lain, maka mereka akan memposisikan diri sedemikian rupa sehingga Anda tidak akan kecewa. Mereka melakukan ini dengan cara pasif dan tidak dengan cara konfrontasi.

Orang phlegmatis kadang kala kurang bersemangat, kurang motivasi. Mereka lebih suka diam dan menunggu perintah untuk mengerjakan sesuatu. Ini bukan karena mereka malas, tetapi mereka lebih suka tidak mengerjakan apa pun daripada mengerjakan sesuatu dan ternyata itu salah. Bila mereka tidak diberi penghargaan dan pengarahan, maka mereka akan menjadi prustrasi dan menyerah, tidak mau mengerjakan apa-apa lagi. Sebaliknya, bila mereka mendapat pengarahan dan bimbingan, mereka akan mau mengerjakan lebih banyak daripada yang diharapkan. (Eysa Institute).

Posted from WordPress for Android

March 18, 2014 / togastola

SEJARAH GEREJA MASEHI INJILI TIMOR (GMIT)

image

Cikal-bakal GMIT bermula dari kedatangan Ds.Mattheus van den Broek pada tahun 1614 sebagai pelayan rohani pegawai-pegawai VOC di Kupang. Tetapi tidak lama kemudian pendeta ini pulang ke Belanda. Lalu, setelah kurang lebih 50 tahun, pada tahun 1670 datang Ds.Key Sero Kind, dan kemudian digantikan oleh Ds.A.Corpius tahun 1687 yang bekerja hanya setahun karena meninggal dunia. Demikianlah jemaat di Kupang tidak mendapat pelayanan yang sungguh-sungguh. Untuk melayani jemaat diangkat oleh seorang Kupang bernama Paulus. Kemajuan berarti terjadi pada abad ke-18, seiring dengan didirikannya benteng VOC di Kupang pada tahun 1701. VOC juga mendatangkan pendeta-pendeta ke P.Timor. Sejak itu berdirilah gereja dan sekolah-sekolah di Kupang. Pekabaran Injil pun mulai digiatkan ke beberapa pulau sekitar, seperti: Rote dan Sabu. Setelah VOC bubar, pekabaran Injil diambil-alih oleh lembaga Zending NZG (Nederlansche Zendeling Genootschap). Maka sejak 1817-1942 gereja di Timor menjadi bagian dari Indische Kerk. Pada masa inilah terjadi kemajuan pekabaran Injil yang pesat sampai ke pedalaman Timor dan sekitarnya. Alkitab dan nyanyian-nyanyian juga diterjemahkan para misionaris ke bahasa-bahasa setempat. Kemudian, ketika para Zendeling ditawan oleh Jepang, kepemimpinan diambil-alih putra-putra Kupang dengan membentuk Badan Gereja Timor Selatan. Sebenarnya, gagasan pembentukan GMIT telah dimulai tahun 1933 untuk maksud memandirikan. Namun gagasan ini baru terealisasi pada 31 Oktober 1947, yang waktu itu terdiri dari 6 klasis dan dipimpin oleh Ds.Durkstra. (www.pgi.or.id)

Posted from WordPress for Android

March 18, 2014 / togastola

SEJARAH GEREJA KRISTEN PROTESTAN BALI (GKPB)

image

GKPB (Gereja Kristen Protestan di Bali) lahir pada tanggal 11 November 1931 dengan dibaptisnya 12 Orang Bali menjadi Kristen oleh Pendeta R.A.Jaffry di Tukad Yeh Poh, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. 12 Orang Bali dibaptis menjadi Kristen karena hasil perkabaran injil Tsang To Han dari CMA (Christian Missionary Alliance) yang datang ke Bali tahun 1929 untuk mengembalakan orang-orang Kristen China yang ada di Kota Denpasar melalui seorang perempuan Bali yang nikah dengan orang China di Denpasar Tsang To Han berkenalan dengan 12 Orang Bali tersebut diatas Tahun 1929, beberapa orang di desa Dalung Abianbase dan Untal-Untal mengalami krisis spiritual dan belajar ilmu kebatinan kepada Raden Atmojo Kusuma. Bebrapa orang murid Raden Atmojo Kusuma ini akhirnya menerima Yesus melalui Tsang To Han karena Raden Atmojo Kusuma tidak diperbolehkan lagi tinggal di Bali oleh Pemerintah Belanda.

Maka melalui Tsang To Han dibaptislah 12 Orang Bali di Sungai Yeh Poh Dalung yang berasal dari Banjar Untal-Untal, Dalung, Abianbase dan Buduk. Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) diakui sebagai Gereja pada tanggal 11 Agustus 1949 dengan dikeluarkannya badan Hukum No.8 tanggal 11 Agustus 1949, berdasarkan staadblat nomer 214 bertempat di Blimbingsari.

Dalam perjalanan sejarahnya GKPB sebagai Sinode pernah berkantor pusat di Untal-Untal, Debes No. 6 Denpasar, Jl. Sutomo No. 101 Denpasar dan sekarang berkantor pusat di Jl. Raya Kapal No.20 Kapal Mengwi Badung.

Profil GKPB (Keterangan Simbol) :

Lingkaran yang paling luar, berbentuk oval (seperti telur) menyimbolkan bahwa ada kehidupan di dalamnya. Dalam bahasa Bali dikenal istilah “manik” yang bisa diidentifikasikan sebagai jiwa dari kehidupan.
Salib yang bengkok (Salib yang menari) : Ini menyimbolkan kebangkitan Kristus dari kematian-Nya. Oleh kebangkitan Yesus maut telah kehilangan sengatnya. Seandainya Yesus tidak bangkit dari kematian-Nya maka iman kita kepada-Nya akan sia-sia.

Sepuluh lingkaran kecil (lima disisi kanan dan lima disisi kiri sebelah atas) : Salib adalah simbol dari Sepuluh Perintah Tuhan dalam Perjanjian Lama yang kemudian digenapi dengan kematian dan kebangkitan Yesus di kayu salib

Langit merah berdarah adalah simbol dari darah Kristus yang sudah dipersatukan dengan kehidupan mereka yang mau bertobat
Perahu dengan kepala ikan identik dengan perahu masyarakat Bali, yang bisa dijumpai dari Sanur sampai bagian barat pulau Bali. Ini menyimbolkan Perahu Kehidupan yang diberkati yang berlayar di samudera kehidupan yang tidak bertepi. Batas tepinya adalah dunia harapan baru. Yesus Kristus yang hidup adalah nahkoda dari perahu itu yang disimbolkan dengan salib yang menari.
Laut biru melambangkan Samudra Perdamaian.

Teratai dan burung-burung jantan dan betina menggambarkan perumpamaan Yesus tentang kekhawatiran, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu ?” (Matius 6 : 25-26), “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting dari pada pakaian. Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu! Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya ? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain ? Perhatikanlah bunga bakung, yang tidak memintal dan tidak menenun, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika rumput di lading, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya !” (Lukas 12 : 22-31)

KESIMPULAN : Di dalam tubuh GKPB ada jiwa dari jemaat yang berlayar dan dinahkodai oleh Yesus untuk mengarungi samudra kehidupan menuju dunia yang belum diketahui, dunia baru, dunia yang penuh damai sejahtera, dunia yang sangat indah dimana tidak ada kekhawatiran dan keraguan.

Pada saat ini GKPB memiliki 58 Jemaat, 2 English Spaeking Congregation (ESC), 17 Balai Pembinaan Iman (BPI) yang tersebar di delapan kabupaten dan kodya di seluruh pulau Bali, dengan total warga jemaat sebanyak 11.330 jiwa, menurut statistik jemaat tahun 2008.

Keanggotaan Jemaat GKPB:

WILAYAH KOTA DENPASAR

1. GKPB Jemaat “Kristus Kasih” Denpasar
2. BPI Surya Buana
3. GKPB Jemaat “Widhi Satya” Sesetan
4. BPI Kepaon
5. GKPB Jemaat “Getsemani
6. GKPB Jemaat Dhyana Pura Kuta
7. GKPB Jemaat Philadelphia Legian
8. ESC English Worship Service – Legian
9. GKPB Jemaat Bukit Doa Nusa Dua
10. ESC Bukit Doa International Church

WILAYAH BADUNG UTARA

11. GKPB Jemaat “Galang Ning Hyang” Abianbase
12. GKPB Jemaat “Uwit Galang” Ulun Uma
13. GKPB Jemaat “Sinar Urip” Carangsari
14. GKPB Jemaat “Gabriel” Pegending
15. GKPB Jemaat “Galang Bhuana” Dalung
16. GKPB Jemaat “Betlehem” Untal-Untal
17. GKPB Jemaat “Kudus” Sading
18. GKPB Jemaat “Merta Urip” Luk-Luk

WILAYAH BADUNG SELATAN

19. GKPB Jemaat “Efrata” Buduk
20. GKPB Jemaat “Toya Urip” Kaba-Kaba
21. GKPB Jemaat “Marga Pakerti” Padang Tawang
22. GKPB Jemaat Canggu Permai
23. GKPB Jemaat “Tirta Amerta” Plambingan
24. GKPB Jemaat “Tirta Empul” Kerobokan
25. GKPB Jemaat “Hosana” Kwanji
26. GKPB Jemaat “Yudea” Padang Luwih

WILAYAH BALI TIMUR

KABUPATEN KARANGASEM
27. GKPB Jemaat Amlapura
28. GKPB Jemaat “Sabda Urip” Sega

KABUPATEN KLUNGKUNG
29. GKPB Jemaat “Tresna Asih” Klungkung
30. BPI Tengading

WILAYAH BALI TIMUR LAUT

KABUPATEN BANGLI
31. GKPB Jemaat “Marga Rahayu” Bangli
32. GKPB Jemaat “Mrikije” Bukitsari
33. GKPB Jemaat “Giri Sweca” Katung
34. BPI Tambakan

KABUPATEN GIANYAR
35. GKPB Jemaat “Margi Rahayu” Gianyar
36. BPI Batu Bulan
37. BPI Payangan Ubud

WILAYAH BULELENG

KABUPATEN BULELENG
38. GKPB Jemaat “Sabda Bayu” Singaraja
39. GKPB Jemaat “Gunung Muria” Gitgit
40. BPI Sambangan
41. GKPB Jemaat “Imanuel” Sangsit
42. GKPB Jemaat “Urip Langgeng” Abasan
43. GKPB Jemaat “Galanging Jagad” Galungan
44. GKPB Jemaat “Pancaran Kasih” Bungkulan
45. BPI Bon Tiying
46. BPI Bulian
47. GKPB Jemaat Seririt
48. GKPB Jemaat Tigawasa
49. BPI Kedis
50. GKPB Jemaat “Air Hidup” Banyupoh
51. GKPB Jemaat Patas Tinga-Tinga
52. GKPB Jemaat Sumberkimo

WILAYAH JEMBRANA

KABUPATEN JEMBRANA
53. GKPB Jemaat Gilimanuk
54. GKPB Jemaat “Sion” Melaya
55. BPI Candikusuma
56. GKPB Jemaat Pangkung Tanah Melaya
57. GKPB Jemaat “Imanuel” Ambiarsari
58. GKPB Jemaat “Pniel” Blimbingsari
59. GKPB Jemaat “Mandira Santi” Negara
60. GKPB Jemaat “Mandira Asih” Tegal Badeng
61. BPI Sarikuning

WILAYAH TABANAN

KABUPATEN TABANAN
62. GKPB Jemaat “Bait Laihai Roi” Penataran
63. GKPB Jemaat Pajahan
64. GKPB Jemaat “Sabda Jati” Selabih
65. GKPB Jemaat “Marga Jati” Belatungan
66. GKPB Jemaat “Betesda” Lalang Linggah
67. BPI Bajera
68. BPI Wanagiri
69. GKPB Jemaat “Imanuel” Tabanan
70. BPI “Mawar Saron” Baturiti
71. GKPB Jemaat “Imanuel” Piling
72. GKPB Jemaat “Bukit Palma” Sanggulan
73. BPI Serason
74. GKPB Jemaat “Alif dan Ya” Bongan
75. GKPB Jemaat “Betesda” Sudimara
76. GKPB Jemaat “Suluh Kasih” Tibubiu
77. BPI Braban – Klecung

Dan di Layani oleh 35 Orang Pendeta Aktif Melayani di Jemaat, 3 Orang Pendeta Melayani di MSH dan 4 Orang Pendeta Melayani di Departeman. Pendeta yang masih aktif melayani di GKPB terdiri dari 36 Pdt. Laki – Laki dan 6 Pdt. Perempuan. 12 Orang Vikaris yang terdiri dari 6 Laki – Laki dan 6 Perempuan. Disamping itu Pdt. Emeritus di GKPB sebanyak 22 Orang yang terdiri dari 20 Laki – Laki dan 2 Perempuan

sumber: group-gkpb-fb

Posted from WordPress for Android

March 17, 2014 / togastola

SEJARAH HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN (HKBP)

image

Huria Kristen Batak Protestan (disingkat HKBP) adalah gereja Protestan terbesar di kalangan masyarakat Batak, bahkan juga di antara Gereja-gereja Protestan yang ada di Indonesia, dan menjadikannya pula organisasi keagamaan terbesar ketiga setelah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah . Gereja ini tumbuh dari misi RMG (Rheinische Missionsgesellschaft) dari Jerman dan resmi berdiri pada 7 Oktober 1861.

Saat ini, HKBP memiliki jemaat sekitar 4.5 juta anggota di seluruh Indonesia. HKBP juga mempunyai beberapa gereja di luar negeri, seperti di Singapura, Kuala Lumpur, Los Angeles, New York, Seattle dan di negara bagian Colorado. Meski memakai nama Batak, HKBP juga terbuka bagi suku bangsa lainnya.

Sejak pertama kali berdiri, HKBP berkantor pusat di Pearaja (Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) yang berjarak sekitar 1 km dari pusat kota Tarutung, ibu kota kabupaten tersebut. Pearaja merupakan sebuah desa yang terletak di sepanjang jalan menuju kota Sibolga (ibu kota Kabupaten Tapanuli Tengah). Kompleks perkantoran HKBP, pusat administrasi organisasi HKBP, berada dalam area lebih kurang 20 hektar. Di kompleks ini juga Ephorus (=uskup) sebagai pimpinan tertinggi HKBP berkantor.

HKBP adalah anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), anggota Dewan Gereja-gereja Asia (CCA), dan anggota Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD). Sebagai gereja yang berasaskan ajaran Lutheran, HKBP juga menjadi anggota dari Federasi Lutheran se-Dunia (Lutheran World Federation) yang berpusat di Jenewa, Swiss.

Sejarah
Garis waktu sejarah HKBP
Berikut adalah garis waktu sejarah HKBP
1824
Pekabar injil datang ke tanak Batak untuk yang pertama kali dari Gereja Baptis Inggris yaitu: Pdt. Burton dan Pdt. Ward.
1825–1829
Perang Tuanku Rao (Perang Bonjol) yang melibatkan bangsa Batak
1834
Pdt. Samuel Munson dan Pdt. Hendy Lyman datang ke tanah Batak disuruh oleh Persekutuan Zending Boston, akan tetapi mereka dibunuh di desa Lobu Pinang.
1840
Franz Wilhelm Junghuhn mempelajari Bahasa Batak dan Adat Batak, memberitahukan bangsa Eropa mengenai bangsa Batak.
1849
Herman Neubronner van der Tuuk dari Amsterdam disuruh Persekutuan Bibel Netherland meneliti Bahasa Batak. Dia sempat menuliskan isi Alkitab berbahasakan Bahasa Batak, menulis tata Bahasa Batak dan membuat kamus Bahasa Batak – Belanda beserta cerita-cerita rakyat..
1853
Akibat perlakuan yang tidak simpatik dari suku Banjarmasin terhadap pendeta, maka Dr. Fabri pimpinan dari Rheinische Zending – Belanda memutasikan para pendeta dari Banjarmasin ke Tanah Batak, setelah membaca surat yang datang dari Tanah Batak tentang pekabaran Injil yang baru dirintis di Tanah Batak.
1857

Pdt. Van Asselt dari Ermelo-Belanda, utusan Ds. Witteveen, melakukan pelayanan di Desa Parau Sorat, daerah Sipirok, Tapanuli Selatan
1861

31 Maret – Sebagai tanda diterimanya pekabaran Injil di Tanah Batak dimulai dengan adanya baptis perdana yang dilakukan oleh Pdt. Van Asselt terhadap dua orang suku Batak (Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar) di Parau Sorat, Sipirok. Ini adalah baptisan pertama yang diterima oleh orang Batak dan tanggal ini sampai sekarang diperingati sebagai hari Hakaristenon di Tapanuli.
7 Oktober – Merupakan hari lahirnya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), ditandai dengan berundingnya empat orang Missionaris, Pdt. Heine, Pdt. J.C. Klammer, Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt (mereka berasal dari zending Emerllo Belanda dan Zending Rheinische Mission Jerman). Keempat tenaga zending ini mengadakan rapat di Sipirok untuk membicarakan pembagian wilayah pelayanan di Tapanuli.
1862
Berdirinya Jemaat di Sarulla dan Pangalaon Pahae
1864

20 Mei – Pdt. I. L. Nommensen membangun gedung di dusun Dame I yang terletak di Desa Saitnihuta Ompu Sumurung, kemudian dinamakannya Godung Huta Dame.
29 Mei – Pdt. I. L. Nommensen mengadakan kebaktian minggu pertama di Godung Huta Dame, dan meresmikan gereja pertama yang dibangunnya di Tanah Batak, yaitu HKBP Saitnihuta (Huta Dame Saitnihuta) dan HKBP Pearaja (Kedua gereja ini satu kepanitiaan dalam merayakan Pesta Jubileum. Pada tanggal 20 Mei 1964, HKBP Pearaja merayakan Pesta Jubileum ke 100 tahun, tetapi untuk selanjutnya, tanggal 29 Mei merupakan tanggal resmi Pesta Jubileum yang akan dilakukan oleh kedua gereja ini).
25 Desember – Pembaptisan kepada 3 orang Batak di Gereja Sipirok, yaitu Thomas Siregar, Pilipus Harahap dan Johannes Hutabarat yang di baptis Pdt. Klammer.
1865
27 Agustus – Pembaptisan Pertama kepada 13 orang di Silindung
1867
Berdiri jemaat HKBP Pansurnapitu
1868

Berdiri Sekolah Guru di Parau Sorat, Sipirok, Tapanuli Selatan. Murid pertama berjumlah 5 orang, yaitu: Thomas, Paulus, Markus, Johannes dan Epraim. Guru mereka adalah Dr. A.Schreiber dan Leipold
1870

Permulaan berdirinya Jemaat di Sibolga dan Sipoholon
1872

Berdiri Sekolah Normal Pemerintah di Tapanuli Selatan dan Jemaat di Bahal Batu
1877

Berdiri Seminarium di Pansurnapitu, jumlah murid pertama 12 orang
1878

Pdt. I. L. Nommensen menerjemahkan Injil ke Bahasa Batak dalam aksara Batak dan aksara Latin; 306 Desa di Lembah Silindung masuk dalam pemerintahan Kolonial Belanda
1879

Pdt. A. Schreiber menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak Angkola.
1881

Diresmikan HKBP di Balige; Penyusunan Aturan Dasar dan Aturan Rumah Tangga HKBP, dan Pdt. I.L. Nommensen diangkat menjadi Ephorus HKBP
1883

Sekolah Pendeta Pertama dibuka dan 4 orang putera Batak pertama untuk Sekolah Pendeta, yaitu: Johannes Siregar, Markus Siregar, Petrus Nasution dan Johannes Sitompul. Tetapi, Johannes Sitompul wafat sebelum menyelesaikan studinya.
1885

19 Juli – Pemberkatan Pendeta Batak yang pertama di HKBP Pearaja, yakni: Johannes Siregar, Markus Siregar, Petrus Nasution.
1889
13 Juli – Diutus RMG Nona Hester Needham (23 Januari 1885 – 12 Mei 1897) melayani kaum ibu dan wanita. Ini menjadi awal pelayanan kepada kaum wanita dan anak-anak di Tanah Batak. Pelayanan Nona Hester Needham dibantu oleh Nona Thora di Silindung dan Nona Nieman di Toba.
1890
1 Januari – Terbit Surat Parsaoran Immanuel (Jurnal Gereja)
8 Januari – Dimulai Nona Hester Needham melayani anak-anak, kaum perempuan di Pansurnapitu, serta turut membimbing murid-murid Sekolah Pendeta di Seminari Pansurnapitu.
1893
Sekolah Zending mendapat subsidi dari Pemerintah
1894

Perjanjian Lama di terjemahkan ke dalam Bahasa Batak oleh Pdt. P.H. Johannsen
1895

16 Juli – Nona Hester Needham ditemani seorang gadis Mandailing, Domi, mengadakan perjalanan ke Muarasipongi Kotanopan.
1896
3 Mei–26 Juli – Nona Hester Needham melayani di Malintang, menginjili di tengah-tengah penganut agama lain di Mandailing Nametmet. Juli, Nona Hester Needham melayani di Maga hingga akhir hayatnya, serta di makamkan di tanah yang telah dibelinya sebelumnya.
1898
Terbit untuk pertama kalinya Kalender Gereja
1899

Dimulai “Pardonaion Mission Batak” yang didirikan orang Kristen Batak serta dipimpin Pdt. Henock Lumbantobing menginjili di daerah yang belum disentuh Injil, yakni: Pulo Samosir, Simalungun dan Dairi.
1900

Berdiri Sekolah Anak Raja dengan pengantar Bahasa Belanda di narumonda Toba. Guru Pohing dan Pdt. Otto Marcks. Sekaligus berdiri di tempat yang sama Sekolah Tukang.
2 Juni – Berdirinya Rumah Sakit di Pearaja, yang pada tahun 1928 pindah ke Tarutung (RSU Tarutung Sekarang)
5 September – Berdiri Perkampungan penderita Kusta di Huta Salem Laguboti.
1901
Seminari Pansurnapitu pindah ke Sipoholon
1902

Disalin Pdt. Schutz Alkitab Perjanjian Baru ke bahasa Batak Angkola yang bertulis latin
1903

Pemberitaan Injil ke Tanah Simalungun dimulai; Sekolah anak Raja di Narumonda menjadi Seminarium;
7 Oktober – Pesta Peringatan Kekristenan yang pertama di Tanah Batak.
1907
Berdiri Jemaat di Pematangsiantar
1908

27 April – Hari lahirnya Jemaat di Sidikalang.
1911
Berdiri Distrik di HKBP, yakni: Tapanuli Selatan (dh. Angkola), Silindung, Humbang, Toba (termasuk Samosir), Sumatera Timur (Simalungun – Ooskust).
1912

Pendeta HKBP Pertama di tempatkan di Medan
1917

“Hatopan Christen Batak” berdiri di Tapanuli sebagai organinasi masyarakat.
1918

23 Mei – Pdt. I.L. Nommensen meninggal dunia di Sigumpar
1918
Pdt. V. Kessel menjadi Pejabat Ephorus hingga tahun 1920
1919

Holland Inland School (HIS) Zending berdiri di Narumonda
1920

Pdt. J. Warneck dipilih menjadi Ephorus HKBP.
1922

Pendeta HKBP pertama di tempatkan di Jakarta; Guru Jemaat HKBP pertama di tempatkan di Padang;
20 Juni – Sinode Agung (Sinode Godang) I di HKBP
1923
3 Desember – Dimulai pelayanan diakonia di Hepata
1927
Berdiri MULO Kristen di Tarutung; Pelayanan kepada kaum Muda yang dipimpin Dr. E. Verwiebe. Pada Juni 1952 dalam rapat Pemuda di Sipoholon ditetapkan menjadi NHKBP, dan menjadi awal minggu kebangkitan NHKBP (Parheheon)
1930

Berlaku Aturan Gereja (AD dan ART) yang baru.
1931

11 Juni – HKBP diakui pemerintah dengan Badan Hukum (Rechtperson) No. 48, yang tertulis di Staatsblad Tahun 1932 No. 360
1932
Pdt. P. Landgrebe dipilih menjadi Ephorus.
1934

Berdiri Sekolah Tinggi Teologia di Jakarta, utusan HKBP yang pertama adalah: T.S. Sihombing, K. Sitompul, O. Sihotang, dan P.T. Sarumpaet; Pendeta HKBP pertama di tempatkan di Kutacane, Tanah Alas; Berdiri Sekolah Bibelvrouw (Penginjil Wanita) di Narumonda yang dipimpin Zuster Elfrieda Harder. Tahun 1938 Sekolah ini pindah ke Laguboti.
1935

Pentahbisan Bibelvrouw yang pertama
1936

Pdt. E. Verweibe dipilih menjadi Ephorus.
1940

10 Mei – semua Pendeta Jerman yang melayani di HKBP dipenjarakan Pemerintah Belanda
Mei-Juli – Pdt. H.F. de Kleine menjadi Pejabat Ephorus.
10–11 Juli – Sinode Godang, Pdt. K. Sirait dipilih menjadi Voorzitter (Ephorus) yang pertama dari Pendeta Batak.
1942
Pdt. Justin Sihombing dipilih menjadi Ephorus; Distrik Jawa Kalimantan berdiri;
25 November – berdiri Distrik Samosir
1946
Sekolah Guru Huria (SGH) dibuka kembali di Seminarium Sipoholon;
2 Februari – Berdiri Distrik Dairi.
1947
Berdiri kembali Sekolah Pendeta di Seminarium Sipoholon
1950

Pdt. Justin Sihombing dipilih kembali menjadi Ephorus HKBP dan Ds. K. Sitompul menjadi Sekretaris Jenderal melalui Sinode Godang.
4 November – Berdiri Sekolah Teologia Menengah di Sipoholon
1951
Universitas Bonn menganugerahkan gelar “Doktor Honoris Causa” kepada Pdt. J. Sihombing; Ditetapkan Sinode Godang Konfesi HKBP; Berdiri Percetakan HKBP di Pematangsiantar
29 November – Beridiri Distrik Sibolga dan Medan Aceh.
1952
Berdiri SMA dan SGA di Tarutung; HKBP menjadi Anggota LWF (Lutheran World Federation)
1954

Pdt. B. Marpaung diutus Zending Batak menginjili di Pulau Mentawai
7 Oktober – Peresmian Universitas Nommensen di Pematangsiantar, sekaligus perpindahan Pendidiakan Teologia dari Seminarium Sipoholon ke Pematangsiantar.
November – Berdiri Distrik Toba Hasundutan.
15 Desember – Penyerahan Rumash Sakit HKBP dari Pemerintah ke HKBP.
1955
13 Februari – Berdiri Panti Asuhan Elim di Pematangsiantar
25 Agustus – Berdiri Sekolah Puteri di Sipoholon
1957
17 Maret – Kirchentag (Kebatian Raya) di Pematangsiantar
1959
Pdt. Justin Sihombing dipilih menjadi kembali Ephorus HKBP dan Ds. T.S. Sihombing menjadi Sekretaris Jenderal.
1961Berdiri Sekolah Tekhnik di Pematangiantar
7 Oktober – Jubileum 100 tahun HKBP di Tarutung
1962
Ds. T.S. Sihombing dipilih menjadi Ephorus dan Ds. G.H.M. Siahaan menjadi Sekretaris Jenderal; Ditetapkan Aturan Peraturan (Ad & ART) yang baru.
3–7 Oktober: Sinode Godang Istimewa di Seminarium Sipoholon
1963
Konferensi Kerja HKBP yang pertama; Awal dari Penginjilan di Sakai Kandis Riau; Kursus kaum Ibu yang pertama di Sipoholon.
1 September – HKBP Melepaskan HKBP Simalungun menjadi Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS).
1965
7 Februari – Peresmian Asrama Diakones HKBP “Kapernaum” di Rumah Sakit HKBP Balige.
9 April – Asrama Bibelvrouw di Sinaksak Pematangsiantar dimulai pemakaiannya, dan diresmikan tanggal 9 Juli 1967.
1966
6 Februari – Peresmian Youth Center “Jetun Silangit”
1967

2 April – Peresmian Asrama Pniel di Rumah Sakit HKBP Balige
1968
19 Februari – Peresmian Gedung-gedung di FKIP Universitas HKBP Nommensen di Pematangsiantar.
1971
17 Mei – Pendidikan Diakones dibuka di Balige.
17 Mei – Pembaptisan pertama kepada orang Rupat (daerah Penginjilan) sebanyak 136 orang yang dilayankan oleh Pdt. A.B. Siahaan, dkk.
11 Desember – Peresmian Asrama Bethel dan Betania di Rumah Sakit HKBP Balige.
1972
Ditetapkan Aturan Peraturan (ADT & ART) yang baru
28 MeivPeresmian Perkampungan Pendeta Pensiun dan Kantor Departemen Diakonia Sosial di Pematangsiantar.
30 Desember – Berdiri Distrik Tanah Alas
1974
Universitas Wittenberg menganugerahkan gelar “Doktor Hanoris Causa” keda Pdt. T.S. Sihombing; Pdt. G.H.M. Siahaan dipilih menjadi Ephorus HKBP dan Pdt. F.H. Sianipar menjadi Sekretaris Jenderal.
31 Juli – Berdiri Distrik Asahan Labuhan Batu
2–3 November – Jubileum 75 tahun Zending HKBP.
1976
27 Januari – Peresmian Pendidikan Diakones HKBP di Balige
2 Agustus – HKBP memandirikan HKBP Angkola.
1978
Fakultas Theologia Universitas HKBP diputuskan menjadi Sekolah Tinggi Teologia (STT) HKBP; Pdt. P.M. Sihombing, MTh terpilih menjadi Sekretaris Jenderal HKBP
23–27 Januari – Sinode Godang Istimewa di Simanare Sipoholon

1979
24 Juni – Peresmian Distrik Simarkata Pakpak
1980
11 Juni – Kursus Ketrampilan Pria berdiri di Parparean Porsea
11 Agustus – Kursus Ketrampilan Wanita berdiri di Doloksanggul
1983
24 Februari – Persemian Distrik Tebing Tinggi Deli
28 Agustus – Penahbisan Diakones Pertama di HKBP Balige
1985
Februari – Peresmian Distrik Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel)
1986
27 Januari – Peresmian Auditorium HKBP di Seminarium Sipoholon
27 Juli – Penahbisan Pertama Pendeta Wanita di HKBP, Pdt. Norce P Lumbantoruan
14 Agustus – Peresmian Kantor Induk HKBP di Pearaja Tarutung
1987
Pdt. S.A.E. Nababan dipilih menjadi Ephorus HKBP dan Pdt. O.P.T. Simorangkir menjadi Sekretaris Jenderal.
27–31 Juni – Sinode Godang ke-48
1988
23 Mei: Berdiri Distrik Humbang Habinsaran
10–15 November – Sinode Godang ke-49 menetapkan Garis-garis Besar Kebijaksanaan Pembinaan dan Pengembangan (GBKPP) HKBP
1990
20–9 Juli – Perkemahan Kerja Pemuda HKBP di Sipirok
10–15 Juli – Konferensi Pemuda di Sipirok
18–21 Juni – Konsultasi Teologia di Parapat
1991
9–12 April – Sinode Godang ke-50
1992
23–28 November – Sinode Godang ke-51. Ada 3 agenda di Sinode Godang ini, yaitu; Penyelesaian Kemelut HKBP, Periode Fungsionaris dan menetapkan Aturan Peraturan (AD dan ART) HKBP untuk tahun 1992 s/d 2002. Sinode berhasil memutuskan: Tim Penyelesaian Kemelut dan Aturan HKBP 1992 – 2002 (AD) tanpa Peraturan (ART). Pemilihan Fungsionaris HKBP tidak terlaksana, terjadi keributan dan perpecahan di tubuh HKBP hingga tahun 1998.
1993
11–13 Februari – Sinode Godang Istimewa di Medan melalui undangan Pejabat Ephorus. Di Sinode ini terpilih Pdt. P.W.T. Simanjuntak sebagai Ephorus dan Pdt. S.M. Siahaan sebagai Sekretaris Jenderal.
1994
29 September–1 Oktober – Sinode Godang ke-52 menetapkan Aturan Peraturan (AD & ART) tahun 1994 – 2004.
23 Oktober – Peresmian HKBP Distrik Indonesia Bagaian Timur (IBT)
1995
16–17 Juni – Sinode Godang Penyatuan HKBP Simarkata Pakpak Otonom dan GKPPD
6 Agustus – HKBP memandirikan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD)
24 September – Peresmian HKBP Distrik Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta (Jabartendy)
1996
17–22 November – Sinode Godang ke-53 membicarakan Konfesi HKBP
1998
Pdt. J.R. Hutauruk terpilih sebagai Pejabat Ephorus dengan tugas menyelenggarakan rekonsiliasi selambat-lambatnya enam bulan.
26 Oktober–1 November – Sinode Godang ke-54 di Pematang Siantar / Balige.
17 November – Pernyataan bersama yang ditanda tangani Ephorus Pdt. S.A.E. Nababan dan Pejabat Ephorus Pdt. J.R. Hutauruk di Gereja HKBP Sudirman Medan, menentukan rekonsiliasi melalui Sinode Godang Rekonsiliasi tanggal 18–20 Desember.
18–20 Desember – Sinode Godang HKBP di Kompleks FKIP Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. Pdt. J.R. Hutauruk terpilih sebagai Ephorus dan Pdt. W.T.P. Simarmata terpilih sebagai Sekretaris Jenderal
2000
26 Juli – Konferensi Nasional HKBP di Convention Center Jakarta
21–24 November – Sinode Godang di Seminarium Sipoholon nemetapkan ”Kebijakan Dasar Pendidikan HKBP” (KDP-HKBP)
2002
30 September–1 Oktober – Sinode Godang di Seminarium Sipoholon menetapkan Aturan Peraturan (AD&ART) yang baru, berlaku 1 Januari 2004, dan Distrik : Jakarta 2, Kepulauan Riau, Jakarta 3, Riau, Langkat, Wilayah Tanah Jawa, Jambi.;
2011
7 Oktober – Jubileum 150 Tahun HKBP
2012
10-16 September, Sinode Godang ke 61 di Siminarium Sipoholon.
Terpilih Pdt. Willem T.P.Simarmata, MA (Ephorus), Pdt. Mori Sihombing, MTh (Sekretaris Jendral), Pdt. Welman Tampubolon, STh (Kepala Departemen Koinonia), Pdt. Marolop Sinaga (Kepala Departemen Marturia), Pdt. Drs. Bilheman D.F.Sidabutar, STh (Kepala Departemen Diakonia) dan 28 orang Preses.

Penyebaran Injil Awal di Tanah Batak
Beberapa sumber mencatat bahwa pengabaran Injil di tanah Batak dimulai semenjak Pendeta Ward dan Pendeta Barton dari Gereja Baptis Inggris meyebarkan injil. Usaha pengabaran Injil di tanah Batak dimulai kembali pada tahun 1834 dengan diutusnya Pdt Samuel Munson dan Pdt Henry Lyman dari badan Zending di Boston. Usaha ini mengalami kegagalan di saat kedua missionaris tersebut mati martir di Lobu Pining (Tapanuli Utara). Usaha menginjili tanah Batak sempat terhenti sampai berita mengenai tanah Batak terdengar lagi di Eropa dari hasil ekspedisi seorang Ilmuwan yang bernama Junghun pada tahun 1840. Akibatnya pada tahun 1849 Lembaga Alkitab Belanda mengirim Van der Tuuk untuk mempelajari Bahasa Batak dan hasilnya adalah diterjemahkannya sebagian Alkitab ke dalam bahasa Batak menggunakanaksara Batak. Setelah melihat hasil karya Van der Tuuk, Badan Zending Rheinshe (RMG) mengalihkan konsentrasinya dalam menyebarkan Injil ke daerah Batak degan mengutus Pendeta D.R. Fabri ke sana, sebagian sumber menyebutkan bahwa hal ini disebabkan terhalangnya usaha RMG di Kalimantan.

Kelahiran HKBP
Penetapan hari jadi HKBP tanggal 7 Oktober 1861 memiliki makna sejarah dan teologis yang mendalam. Tanggal 7 Oktober 1861 menjadi titik balik sejarah penginjilan dan sejarah Gereja HKBP. Sejarah penginjilan dan sejarah gereja adalah ibarat dua sisi dari satu mata uang logam yang sama. Gereja tanpa penginjilan bukanlah Gereja.itulah sebabnya peristiwa 7 oktober 1861 diartikan dan dimaknai dari dua segi, yakni penginjilan dan gereja. hasilpenginjilan ditanah batak adalah agama kristenatau kekristenan yang didalamnya terdapat sejumlah jemaat atau pargodungan [ setasi sending dan sekaligus huria/jemaat]. jemaat-jemaat tersebu sejak awal sudah diarahkan akan membentuk sebuah gereja-sending yang kelak menjadi sebuah gereja yang mandiri dari lembaga sending barat [ RMG ].

Pada awalnya tanggal 7 oktober 1861 adalah titik balik penginjilan dari lembaga sending Rhein di dunia ini.karena jauh sebelum tahun 1861 sending Rhein telah membuka daerah penginjilannya di Namibia-Afrika selatan, China, Kalimantan dan di Amerika utara. tetapi sejak 7 oktober 1861 dibuka pula satu daerah penginjilan baru di Sumatera, di Bataklanden atau tanah Batak. Daerah penginjilan baru ini diberinama Battamission yang dikemudian hari disebut Batakmission atau Mission -Batak.

tanggal lair Batakmission ditentukan pada 7 Oktober 1861 bertepatan dengan tanggal dari rapat pertama para penginjil utusan RMG du tanah Batak. hari lahir Batakmission tersebut disambut pengurus sending Rhein RMG di Jerman dengan rasa sukacita. mereka memberitahukan kabar gembira ini kepada jemaat-jemaat pendukung sending RMG di jerman pada awal 1862 sebagai berikut :

” die ersten Briefe unserer Brueder aus dem Battalande sind uns gekommen,und wir koenen heute der Heimathgemeinde den Beginn der Battamission melden. Den 7 oktober 1861 werden wir als den Geburtstag diesses gliedes in dem umkreis unserer arbeit bezeichnen duerfen. An diesem tage traten die dortigen brueder zur ersten Conferenz in Sipirok zusammen “

inilah pemaknaan yang pertama akan arti dari tanggal 7 Oktober 1861, suatu pemaknaan dari kacamata lembaga pengutus RMG di jerman, Eropa.

Batakmission dalam hal ini berarti himpunan dari seluruh para utusan RMG di tanah batak beserta assetnya mencakup seluruh pargodungan dan jemaat serta pelayan pribumi. lembaga sending dan lembaga kegerejaan terpadu dalam suatu lembaga yang bernama Batakmission ( bahasa jerman ) atau Mission- Batak ( Bahasa batak ).Lembaga Mission -Batak ini sejak 1881 dipimpin oleh seorang pemimpin dengan jabatan Ephorus yang dilayankan oleh penginjil Ingwer Ludwig Nommensen ( 1881-1918)

Organisasi
HKBP ditata mengikuti sistem keuskupan, mirip dengan Gereja-gereja yang menganut sistem episkopal seperti Gereja Katolik Roma, Gereja Anglikan, Gereja Methodis, dll. Pimpinan tertingginya disebut Ephorus. Ephorus HKBP yang pertama adalah Dr. I.L. Nommensen. Ephorus dibantu oleh seorang Sekretaris Jenderal dan sejumlah Kepala Departemen. Di bawahnya adalah praeses yang memimpin distrik-distrik gereja, sementara di bawah distrik terdapat resort yang dipimpin oleh pendeta resort, dan di tingkat yang paling bawah adalah jemaat individual yang dipimpin oleh pendeta. Saat ini HKPB mempunyai 26 praeses di seluruh Indonesia. Dalam pelayanannya, seorang pendeta HKBP biasanya dibantu oleh Guru Huria, sementara ada pula jabatan lain yaitu Bibelvrouw dan diakones.

Pada tanggal 27 Juli 1986, di gereja HKBP Bukit Moria, Medan Baru, untuk pertama kalinya HKBP menahbiskan seorang pendeta perempuan yaitu Pdt. Noortje Parsaulian Lasni Rohana Lumbantoruan, S.Th. Pentahbisan dipimpin oleh Ephorus Pdt. G.H.M. Siahaan.

Sampai April 2012, HKBP mempunyai 1.519 Pendeta, 175 Calon Pendeta, 428 Guru Jemaat, 36 Calon Guru Jemaat, 408 Bibelvrouw, 43 Calon Bibelvrouw, 284 Diakones, 29 Calon Diakones. Keseluruhan pelayan dan calon pelayan berjumlah 2.922 orang.

Saat ini jabatan Ephorus HKBP dipegang oleh Pdt. Willem T.P. Simarmata, M.A yang melayani mulai tahun 2012-2016.

Daftar Ephorus HKBP
No. Nama Dari Sampai Keterangan
1. 1. Pdt. Dr. I. L. Nommensen 1881 1918 Ephorus pertama
2. 2. Pdt. Valentin Kessel 1918 1920 Pejabat sementara Ephorus
3. 3. Pdt. Dr. Johannes Warneck 1920 1932
4. 4. Pdt. P. Landgrebe 1932 1936
5. 5. Pdt. Dr. E. Verwiebe 1936 1940
6. 6. Pdt. H.F. de Kleine 1940 1940 Pejabat Ephorus
7. 7. Pdt. K. Sirait 1940 1942 Orang Batak pertama yang menjadi Ephorus
8. 8. Pdt. Dr. (H.C.) Justin Sihombing 1942 1950
9. Pdt. Dr. (H.C.) Justin Sihombing 1950 1960
10. Pdt. Dr. (H.C.) Justin Sihombing 1960 1962
11. 9. Pdt. Dr. (H.C.) T.S. Sihombing 1962 1974 Terpilih dalam Sinode Godang Istimewa.
12. 10. Pdt. G.H.M. Siahaan 1974 1981
13. Pdt. G.H.M. Siahaan 1981 1986
14. 11. Pdt. Dr Dr. Hc. S.A.E. Nababan, LLD 1986 1998 Terjadi Krisis HKBP (1992-1998) yang menghasilkan dualisme kepemimpinan hingga 1998.
14.b. 12. Pdt. Dr. P.W.T. Simanjuntak 1993 1998 Terpilih dalam Sinode Godang Istimewa.
15. 13. Pdt. Dr. J.R. Hutauruk 1998 1998 Terpilih sebagai Pjs. Ephorus dalam Sinode Godang ke-52.
16. Pdt. Dr. J.R. Hutauruk 1998 2004 Terpilih dalam Sinode Godang Rekonsiliasi.
16. 14. Pdt. Dr. Bonar Napitupulu 2004 2008
17. Pdt. Dr. Bonar Napitupulu 2008 2012 Terpilih dalam Sinode Godang HKBP ke-59 di Seminarium Sipoholon [2]
17. 15. Pdt. WTP Simarmata, MA 2012 2016 Terpilih dalam Sinode Godang HKBP ke-61 di Seminarium Sipoholon. (Wikipedia)

Posted from WordPress for Android

March 17, 2014 / togastola

SEJARAH GEREJA KRISTEN JAWI WETAN (GKJW)

image

Gereja Kristen Jawi Wetan’ (GKJW) adalah persekutuan gereja-gereja berbasis daerah di Jawa Timur yang dideklarasikan pada tanggal 11 Desember 1936 di salah satu Jemaat Kristen Jawa terkemuka saat itu, yakni Mojowarno, Kabupaten Jombang. Gereja ini termasuk anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Dewan Gereja-gereja Asia.

Sejarah Pembentukan GKJW
Deklarasi GKJW sebagai gereja dilakukan dengan melalui pendirian suatu Majelis Agung (MA) yang merupakan upaya mempersatukan 29 raad pasamuwan alit (majelis jemaat) di seluruh Jawa Timur. MA merupakan suatu wadah sinodial yang telah ditawarkan oleh persekutuan pekabar Injil dari Belanda, yang selama hampir 100 tahun menjadi pengampu jemaat-jemaat Kristen Jawa tersebut. Saat itu, ada dua kelompok pekabar Injil yang bekerja di antara orang Kristen di Jawa Timur, yakni Nederlandsche Zending-genootschap (NZG) dan suatu panitia pekabar bernama Java Comite.

Dalam dekrit pengurus pusat NZG ditandatangani Konsul Jenderal Th. Boetzelaer van Dubbeldam, tertanggal 15 Oktober 1931, ditawarkan pendirian suatu gereja bagi orang Jawa Timur sebagai tindakan strategis dalam pekabaran Injil di Jawa. Bila dicermati, pendirian MA merupakan suatu siasat NZG yang saat itu menjadi pengampu berbagai jemaat Kristen bumiputra di Jawa Timur. Tekanan sosial politik yang muncul akibat tumbuhnya kesadaran nasionalisme Indonesia, seiring dengan mengerucutnya tekanan terhadap kristianisme di Nusantara, menghantar dibentuknya MA.

Pendirian MA sebagai wujud kesatuan sinodial, tak lepas dari usulan Dr. H. Kraemer, utusan Nederlands Hervormd Kerk (NHK) Belanda yang bekerja untuk NZG, guna mewujudkan suatu jemaat kristiani berbasis kewilayahan di Hindia Belanda sebagai sebuah gerakan kultur sekaligus politik.

Bahkan selanjutnya MA GKJW didaftarkan ke Mahkamah Hindia Belanda sebagai suatu recht-persoon (badan hukum), sehingga memiliki kewenangan mengelola aset dan bertindak sebagai organisasi yang diakui pemerintah. Tampak, pendirian MA merupakan suatu siasat kebudayaan yang berada dalam koridor dinamika politik Hindia Belanda.

Sidang Pertama Majelis Agung
Sidang perdana MA diadakan keesokan hari setelah deklarasi, bertempat di gedung gereja Jemaat Mojowarno, Sabtu 12 Desember 1931. Mewakili NZG hadir C.W. Nortier (Ketua MA), C. van Engelen, S.A. van Hoogestraten dan J. Wiegers. Wakil umat Kristen Jawa Noeroso, Sriadi, Pdt. Driyo Mestoko, Guru Injil (GI) Tartib Eprayim, Poertjojo Gadroen, Jaret Parang, Raden Poeger, Raden Wiriodarmo dan kawan-kawan.

Anggota sidang yang hadir pagi itu, sebenarnya bukan muka baru. Mereka adalah aktifis yang sejak lama berkutat dalam pergerakan Jemaat Kristen Jawa. Sejak Rencono Budiyo (berdiri 1898), Mardi Pracoyo (1912), Perserikatan Kaum Kristen (1918), hingga Panitia Pitoyo (1924) yang mempelopori pemandirian Jemaat Mojowarno, mereka sibuk mendorong pemandirian GKJW.

Sebelum sidang dibuka, seorang mantri guru dari Mojowarno, Soetikno, menyerahkan sebuah palu kayu jati buatannya sendiri. Palu itu bercandra sengkala “manjalmaning resi wadaning Kristus” yang ditranslasi ke dalam angka akan berbunyi 1931, yang merupakan tahun persidangan. Sejak saat itu menjadi tradisi GKJW, palu bikinan Soetikno hanya dipakai pada sidang MA saja.

Sebagai tema sidang diambil Pilipi 4:4-9, dengan penekanan pada ayat 6 yang berbunyi, Janganlah kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.[2]

Persidangan dipimpin Ketua MA pertama, yakni Dr. C.W. Nortier. Sekretaris pertama MA daur dipilih melalui pemungutan suara. Calon terpilih adalah Raden Poeger (10 suara), melewati Moeljodihardjo (9 suara) dan Kentjono (5 suara). Pemilihan dilanjutkan dengan Bendahara MA, di mana terpilih seorang mantri guru, Poertjojo Gadroen (12 suara).

Dualisme Kepemimpinan Gereja
Semasa penjajahan Jepang di Indonesia (1942-1945), timbul perpecahan di dalam tubuh GKJW yang disebabkan oleh proses politik dari praktik kolonial Jepang. GKJW mendapat sorotan saat itu karena dipandang sebagai kelompok orang Jawa dengan afiliasi ke Belanda.

Sejumlah jemaat Kristen Jawa mengalami kesulitan untuk beribadah dan setelah penyiksaan terhadap sejumlah orang Tionghoa dan Kristen di Keresidenan Besuki, muncul desakan dari sejumlah tokoh Kristen Jawa untuk mencari perlindungan kepada Pemerintah Jajahan Jepang di Indonesia.

Pada tahun 1943 berdiri Raad Pasamuwan Kristen (RPK) di Jawa Timur untuk memenuhi maksud tersebut. Terjadi dualisme, karena baik RPK maupun MA GKJW sama-sama memiliki pengikut di sejumlah jemaat Kristen Jawa Timur.

Dualisme ini tidak berkepanjangan, karena tokoh-tokoh Kristen Jawa banyak ditangkap menjelang akhir Perang Dunia ke II, antara lain: Pdt. Driyo Mestoko, Pdt. Tasdik, DR. B.M. Schuurman, Yeruboham Mattheus dan lain-lain. Akibatnya baik RPK maupun MA GKJW sama-sama berada dalam keadaan vakum hingga Jepang akhirnya menyerah 14 Agustus 1945.

Melalui Persidangan MA GKJW di Jemaat Mojowarno, tanggal 4-6 Agustus 1946 dilakukan rekonsiliasi untuk mempertemukan kedua kubu yang pernah sama-sama memimpin umat Kristen Jawa Timur. Rekonsiliasi tadi ditandai sebuah ibadah perjamuan kudus pada tanggal 5 Agustus yang selanjutnya diperingati sebagai Hari Pembangunan (atau lebih tepat Kebangunan) GKJW.

GKJW Masa Kini
Kenyataan sosial, politik, ekonomi dan budaya pada zaman ini sudah berbeda sama sekali dari kenyataan yang melingkupi pendirian MA sekitar tiga perempat abad silam. Hindia Belanda telah tiada, Indonesia kini berdaulat sebagai sebuah negara-bangsa. Identitas nasional telah menggantikan kolonialisme. Konstelasi geopolitik telah bergeser. Ekonomi liberal pra-Perang Dunia II telah berganti dengan kapitalisasi neo-liberal yang bersifat global dan lintas ruang. Indonesia dan tentu saja Jawa Timur, sudah banyak berubah.

Saat ini GKJW memiliki anggota sekitar 23.000 jiwa yang terbagi dalam 136 jemaat di sepenjuru Jawa Timur. Sejumlah jemaat tersebut dikoordinasikan melalui Majelis Daerah (setara dengan klasis dalam sistem sinodial) dan berada di bawah MA GKJW sebagai pucuk pimpinan gereja. Meski tidak secara formal diakui sebagai suatu sistem hirarkis, susunan organisasi GKJW lebih suka dipandang sebagai sistem koordinasi. (wikipedia)

Posted from WordPress for Android

November 16, 2012 / togastola

GEREJA KRISTEN PASUNDAN

Kronologis Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan

Gereja Kristen Pasundan (GKP)

Tahun 1851 Lembaga Pekabaran Injil Genootschap voor Inen Uitwendige Zending te Batavia (GIUZ) didirikan di Jakarta oleh beberapa orang Eropa dan beberapa Lembaga Pekabaran Injil. Lembaga ini bekerjasama antara lain dengan Lembaga Pekabaran Injil Zendeling Werkman di Negeri Belanda. Diantara tokoh-tokoh pendiri GIUZ adalah Mr.F.L.Anthing dan Pdt.E.W.King. Mr.F.L.Anthing adalah orang pertama yang melakukan Pekabaran Injil kepada penduduk asli di Jawa Barat, dengan prinsip kerja: “Mengabarkan Injil oleh Penginjil Bumiputra”. Dikemudian hari Mr.F.L.Anthing berhasil mendirikan Pos-pos Pekabaran Injil di Jakarta dan sekitarnya, yang seringkali disebut sebagai “Jemaat-jemaat Anthing”, antara lain: Kampung Sawah, Pondok Melati, Gunung Putri, Cigelam, Cikuya (Banten), Tanah Tinggi, Cakung dan Ciater (dekat Serpong)
Tahun 1854 Zendeling Aolf Muhinickel dikirim oleh Zendeling Werkman ke Jakarta dan ditampung oleh GIUZ. Beliau bekerja di Cikuya, Banten tahun 1854-1859 sebagai Guru Sekolah Swasta dan diberi keleluasaan untuk mengabarkan Injil kepada penduduk pribumi.
11 Juli 1855 Dua orang pribumi dari daerah Cikuya, yakni Minggu dan Sarma menerima Baptisan Kudus oleh Pdt.Bierhans di Jakarta. Pelayanan Baptisan Kudus dilakukan di Jakarta karena Muhinickel tidak mempunyai wewenang untuk melakukan pelayanan tersebut. (Dikemudian hari, GKP meresmikan dan memperingati Tanggal 11 Juli sebagai Hari Pekabaran Injil GKP)
07 Mei 1856 Delapan orang lagi penduduk pribumi Cikuya-Banten menerima pelayanan Baptisan Kudus.
Tahun 1862 Lembaga Pekabaran Injil Nederlandsche Zendelings Vereeniging (NZV) mulai mengirimkan para Zendelingnya ke Jawa Barat. (NZV didirikan di Rotterdam tanggal 2 Desember 1858 oleh orang-orang dari Gereja Hervormd)
05 Januari 1863 Rombongan Zendeling NZV yang pertama yakni C.J.Albers, D.J.v.d.Linden dan G.J.Grashuis tiba di Jakarta. Mereka melanjutkan perjalanan ke Bandung bulan Maret 1863. Tetapi mereka harus menunggu 2 tahun baru kemudian memperoleh ijin kerja dari Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Belanda saat itu.
Tahun 1863 Karena belum memperoleh ijin kerja, Zendeling D.J.v.d. Linden pindah ke Cirebon, sedangkan Zendeling C.J.Albers pindah ke Cianjur dan mulai melakukan Pekabaran Injil didaerah itu. Sementara Pdt.E.W.King mendirikan Jemaat Rehoboth di Jatinegara-Jakarta.
26 Desember 1863 Dua orang (suami-isteri) penduduk pribumi, yakni Ismail dan Murti dibaptiskan di Cianjur.
Tahun 1864 Zendeling A.Dijkstra mulai bekerja di Cirebon.
Tahun 1868 Dua orang penduduk pribumi dan satu keluarga keturunan Cina di Cirebon menerima pelayanan Baptisan Kudus oleh Dijkstra. Sementara pada tahun itu S. Coolsma mulai mengabarkan Injik di Bogor. (sampai dengan tahun 1883 tercatat ada 4 orang penduduk pribumi dan 2 orang keturunan Cina yang beragama Kristen di Bogor)
Tahun 1870 A. Geedink mulai mengabarkan Injil di Bandung. (sampai dengan tahun 1877 tercatat ada: 25 Orang Kristen di Bandung)
Tahun 1872 P.N.Gijsman mulai mengabarkan Injil di Sukabumi. (sampai dengan tahun 1883 tercatat ada: 25 Orang Kristen di Sukabumi)
Tahun 1876 Zendeling J.Verhoeven mulai bekerja di Majalengka dan sekitarnya.
Tahun 1878 Seminari Theologia Depok didirikan (Cikal-bakal dari STT Jakarta). Sekolah ini dimanfaatkan oleh para Zendeling NZV untuk mempersiapkan orang-orang pribumi untuk membantu mereka mengabarkan Injil.
Tahun 1879 Alkitab Perjanjian Baru terjemahan dalam bahasa Sunda diterbitkan.
Tahun 1882 Dua orang wanita pribumi di Majalengka dibaptiskan. Zendeling Verhoeven pindah ke Cideres-dekat Majalengka.
Tahun 1883 Tujuh orang pribumi di Cideres menerima Baptisan Kudus.
Tahun 1885 Jemaat di Cikuya-Banten yang dibina Mr.F.L.Anthing dan “Jemaat-jemaat Anthing” lainnya serta jemaat peninggalan pelayanan Pdt.E.W.King dimasukkan dalam lingkup pelayanan NZV. Sejak tahun ini pelayanan Pekabaran Injil dikalangan masyarakat di Jawa Barat dilakukan oleh NZV dibantu oleh para Penginjil pribumi.
Tahun 1886 S. Van Eendenburg mendirikan Desa Kristen Pangharapan di Cikembar-sukabumi. Kebijaksanaan ini dilakukan karena kehidupan orang-orang Kristen pribumi pada waktu itu sangat berat, karena dipencilkan oleh masyarakat. (Dikemudian hari J. Verhoeven mendirikan juga Desa Kristen Palalangon di Ciranjang-Cianjur 1902, dan A. Vermeer mendirikan Desa Kristen Tamiyang didaerah Cirebon)
Tahun 1891 Alkitab lengkap dalam bahasa Sunda hasil terjemahan Zendeling S. Coolsma diterbitkan. Beliau memperoleh tugas itu dari Lembaga Alkitab Belanda dan dikerjakan dengan bantuan beberapa orang Penginjil pribumi.
Tahun 1899 Dilapangan pekerjaan NZV diwilayah Jawa bagian Barat terdapat 11 Persekutuan umat Kristen dengan jumlah anggota: 677 Jiwa.
Tahun 1908 Di Jawa Barat terdapat: 26 Sekolah yang didirikan oleh atau mempunyai hubungan dengan NZV dengan jumlah murid: 1.700 orang. Kehadiran sekolah-sekolah itu dari sejak semula merupakan bagian kegiatan NZV.
Tahun 1910 Rumah Sakit Immanuel didirikan di Bandung. (Kemudian hari, menyusul Rumah-rumah Sakit ditempat lain seperti Cibadak dan Purwakarta) Sejak semula, para Missionaris terdorong untuk memberi pelayanan medis kepada Masyarakat di Jawa bagian Barat.
Tahun 1915 Tercatat: 24 Jemaat Kristen yang dilayani oleh NZV yang tersebar di Karesidenan Jawa Barat dengan jumlah anggota: 2956 jiwa.
Tahun 1917 Tata Gereja yang diberi nama Atoeran Perkoempoelan Orang Kristen di Pasoendan disahkan dalam konperensi para Zendeling NZV di Jawa Barat.
Tahun 1918 Pdt. Titus ditahbiskan menjadi Pendeta pribumi pertama dalam rangka kegiatan NZV. Sebelumnya beliau adalah seorang Penginjil.
Tahun 1932 Wilayah pelayanan NZV di Jawa bagian Barat terdapat: 5.497 orang Kristen Pribumi dan keturunan Cina.
Tahun 1933 Dr.H.Kraemer seorang utusan Lembaga Alkitab Belanda (Nederlands Bijbelgenootschap) sesudah meninjau Jawa Barat menganjurkan agar Jemaat-jemaat di Tanah Pasundan dipersatukan menjadi sebuah Gereja yang mandiri terlepas dari pemeliharaan sehari-hari oleh NZV.
RABU, 14 NOPEMBER 1934 Gereja Kristen Pasundan menjadi gereja yang berdiri sendiri. Dr. N.A.C Slotemaker de Bruine, konsul Zending yang bertindak mewakili pimpinan NZV dinegeri Belanda dalam suatu upacara di Gedung Gereja Jemaat Bandung membacakan piagam penyerahan sekaligus melantik RAD AGENG (Majelis Besar) sebagai badan pimpinan semua jemaat Kristen di Jawa Barat.

Pada hari itu juga, diadakan Sidang pertama Rad Ageng terpilih sebagai Ketua Pengurus Harian Rad Ageng ialah Zendeling J.Iken dari NZV, Penulis D. Abednego dan Tan Goan Tjong sebagai Bendahara.Tahun 1934Sesudah menjadi Gereja yang mandiri, yang bernama Gereja Kristen Pasundan (GKP), maka ditahbiskan sejumlah Guru Injil Pribumi menjadi Pendeta.Tahun 1936GKP yang pada waktu itu disebut de Christelijke kerk van West Java disahkan menjadi Gereja dengan status Badan Hukum.Tahun 1938Berdiri Gereja Tionghoa Kie Tok Kauw Hwee (sekarang dikenal sebagai Gereja Kristen Indonesia -GKI- Jawa Barat. Dimulai di Cirebon tahun 1863 dan kemudian dibanyak jemaat. Jemaat-jemaat Pasundan merupakan jemaat campuran orang-orang Sunda, Cina dan suku-suku lainnya. Mulai tahun 1930 berangsur-angsur jemaat-jemaat keturunan Cina berdiri disamping jemaat-jemaat Pasundan, tetapi masih tetap tergabung dalam GKP ketika dinyatakan berdiri sendiri tahun 1934).

Di Jawa Barat tercatat: 36 Sekolah Dasar dengan jumlah murid: 3.866 orang. 14 Hollandsh Inlandsche School (HIS), 1 Hollandsch Chineese School, 1 Meer Uitgebreid Leger Onderwijs (MULO) dan 1 Sekolah Guru yang didirikan atau yang ada hubungannya dengan NZV.Tahun 1942Kepemimpinan GKP mulai dipegang sepenuhnya oleh orang-orang pribumi (Bumiputra) karena dalam masa pendudukan Jepang para Zendeling Belanda tidak lagi dapat melakukan kegiatannya. Pengurus Harian Rad Ageng saat itu, terdiri: Ketua Pdt. Aniroen, J.Elia sebagai Sekretaris, Martinus Abednego sebagai Bendahara dan Pdt. Kasdo Tjokrosiswondo sebagai anggota.

Pada tahun ini pula NZV menyerahkan pekerjaan pelayanan dan semua harta milik seperti: Sekolah-sekolah dan Rumah-rumah sakit kepada GKP.Tahun 1945-1949Pada masa transisi setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), dalam keberadaan RI yang masih muda usia, terjadi pengacauan terhadap jemaat-jemaat GKP, antara lain: di Cigelam, Gunung Putri dan Kampung Sawah. Banyak anggota jemaat yang terpaksa mengungsi atau pindah ke tempat-tempat lainnya.

Dalam masa itu, Pdt. J.v.d.Weg yang sudah dibebaskan dari Kamp tawanan tentara Jepang pergi kembali ke Juntikebon, dimana sebelum pendudukan tentara Jepang ia sudah bekerja disana. Setibanya di Juntikebon, beliau malah dibunuh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.Tahun 1946-1947Kedudukan Pengurus Harian Darurat GKP dipindahkan ke Garut sehubungan dengan gencarnya pertempuran antara Pasukan RI dengan pasukan Belanda di Bandung yang menyebabkan pengungsian besar-besaran pada penduduk kota itu.Mei 1946GKP ikut mengambil bagian dalam upaya pembentukan Dewan Permusyawaratan Gereja-gereja di Jawa (DPG) yang diadakan di Yogjakarta. DPG merupakan wadah oikumenis 6 gereja di Pulau Jawa.Tahun 1950Persidangan VIII Rad Ageng di Bandung memutuskan istilah Rad Ageng diubah menjadi SINODE, dan istilah pengurus harian diubah menjadi Badan Pekerja sehingga nama lengkap pengurus hariannya menjadi Badan Pekerja Sinode GKP.

GKP juga mengambil bagian dalam Konferensi pembentukan dan menjadi anggota Gereja-gereja di Indonesia (DGI), yang kini dikenal dengan nama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).Tahun 1951NZV diintegrasikan ke dalam Nederlandse Hervormde Kerk (Gereja Hervormd Belanda). Sejak itu GKP berhubungan dengan NHK melalui Dewan Pekabaran Injil NHK di Oegstgeest, negeri Belanda. Pada pemberontakan DI/TII, beberapa jemaat GKP di pedesaan mengalami gangguan dan yang paling parah dialami oleh jemaat di Tamiyang, dimana Pdt. Usman Sarin ditembak mati oleh gerombolan pengacau.Tahun 1953Harta milik GKP selama bekerja di Jawa bagian Barat (Gedung Gereja, Rumah Sakit, bangunan sekolah dan lainnya) dihibahkan kepada GKP dan GKI-Jawa Barat.Tahun 1956Sidang Sinode X GKP di Bandung mensahkan Tata Gereja GKP sebagai pengganti Tata Gereja yang diadakan sejak tahun 1934.Tahun 1959GKP menjadi anggota Dewan gereja-gereja di Asia Timur (East Asian Christian Conference, yang dikemudian hari berubah menjadi Christian Conference of Asia). Pada tahun tersebut GKP tercatat ada: 32 Jemaat, dengan: 9.127 jiwa.Tahun 1961GKP menjadi anggota Dewan gereja-gereja sedunia (World Council of Churches)Tahun 1967GKP menjalin hubungan kerjasama dengan Presbyterian Church of New Zealand.Tahun 1968GKP memulai hubungan kerjasama dengan Basel Mission, Swiss.Tahun 1970GKP menjadi anggota Aliansi sedunia Gereja-gereja Reformasi (World Alliance of Reformed Churches – WARC)Tahun 1990Dalam lingkungan GKP terdapat 45 jemaat dan 35 Pos Kebaktian yang tersebar di Propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta.Tahun 1999GKP menetapkan pelayanannya sebaga dasawarsa menuju kepada kemandirian gereja.Tahun 2002Jemaat-jemaat GKP berjumlah 50 jemaat, 30 Pos Kebaktian yang tersebar di Propinsi Jawa Barat, Propinsi Banten dan DKI Jakarta.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.