Skip to content
January 13, 2016 / togastola

Jubah Penatua Gereja Lutheran

image

Jubah Penatua (Sintua) pada umumnya dipergunakan oleh gereja-gereja Lutheran. Bahan jubah terbuat dari kain cotton yang nyaman dipakai di daerah beriklim tropis.

image

Design jubah dengan motif ripple menambah tampilan lebih elegan.

Untuk pemesanan hubungi :

Gloria Hasta Karya
Phone/WhatsApp/Line:
081391082999, 085786230999
BBM PIN:
5230CDC6

January 12, 2016 / togastola

Kemeja untuk Pendeta (Collar Shirt)

image

Kami menyediakan kemeja ber-collar dengan berbagai  warna menurut kalender gerejawi. Kemeja dengan lengan panjang maupun pendek dengan berbagai ukuran ; S, M, L, XL, XXL, XXXL.

Kemeja ini terbuat dari bahan cotton-polyester bermutu tinggi, tidak mudah kusut dan nyaman dipakai di iklim tropis.

Untuk pemesanan bisa melalui:

1. SMS/Phone/WhatsApp/Line: 08882825608

2.       PIN BB : 5CDB7CD1

November 26, 2011 / togastola

KAIN MIMBAR

Image Kain mimbar ditempatkan di sisi depan mimbar sebagai pengingat dan  atau penanda tahun gerejawi yang sedang berlangsung dalam suatu gereja. Warna kain mimbar disesuaikan dengan tahun gerejawi dan pada permukaannya diberi bordiran simbol gerejawi. Gloria Hasta Karya melayani pemesanan kain mimbar untuk gereja-gereja yang membutuhkan. Lebar dan panjang kain mimbar bisa dipesan sesuai ukuran mimbar gereja. Adapun ukuran standart kain mimbar yang disediakan oleh Gloria Hasta Karya 70 X 100 cm. Gloria Hasta Karya melayani pemesanan kain mimbar 1 set (5 buah bolak-balik dengan 10 simbol tahun gerejawi). Apabila hanya membeli beberapa buah ada perhitungan harga khusus. Pemesanan bisa melalui;

  1.       Inbox message di  http://www.facebook.com/Toga Stola
  2.       www.togastola.wordpress.com
  3. Email: yosafataw@yahoo.co.id

   4. SMS/Phone/Whatsapp: 081391082999

5. Pin BBM: 5230CDC6

(GHK)
November 25, 2011 / togastola

STOLA

Image Stola adalah vestimentum liturgis dari berbagai denominasi Kristen. Stola berupa sehelai selempang kain dengan bordiran, dulunya berbahan dasar sutera, panjangnya sekitar tujuh setengah sampai sembilan kaki dan selebar tiga sampai empat inci, makin ke ujung makin lebar. ETIMOLOGI DAN SEJARAH  Kata Latin stola berasal dari kata Yunani στολη (stolē), “pakaian”, arti aslinya adalah “tatanan” atau “kelengkapan”. Stola mula-mula merupakan semacam syal yang dikenakan menutupi bahu dan menjuntai di bagian depan tubuh; syal yang dikenakan kaum wanita memang sangat besar ukurannya. Setelah dialihgunakan oleh Gereja Roma sekitar abad ke-7 (stola juga telah dipergunakan oleh Gereja-Gereja lokal lain sebelumnya), bentuk stola makin lama makin menyempit dan dipenuhi hiasan karena stola dikembangkan menjadi semacam tanda kehormatan. Kini stola biasanya lebih lebar dan dapat dibuat dari berbagai jenis bahan. Ada banyak teori mengenai “leluhur” stola. Ada yang berpendapat bahwa stola berasal dari tallit (mantel sembahyang Yahudi), karena kemiripannya dengan tata cara penggunaan tallit saat ini (pemimpin ibadah Yahudi mengerudungi kepalanya dengan tallit pada saat memimpin doa) tetapi teori ini sudah tidak dipergunakan lagi sekarang. Teori yang lebih populer adalah bahwa stola berasal dari semacam kain lap liturgis yang disebut orarium dan sangat mirip dengan sudarium. Kenyataanya, di banyak tempat stola disebut orarium. Oleh karena itu stola dihubung-hubungkan dengan kain lap yang digunakan Yesus tatkala membasuh kaki murid-muridNya, dan merupakan simbol yang tepat bagi kuk Kristus, yakni kuk pelayanan. Bagaimanapun juga, “leluhur” stola yang mungkin paling dekat adalah syal jabatan yang dikenakan para pejabat Kekaisaran Romawi. Ketika kaum klerus menjadi angota badan administrasi Romawi, mereka pun menerima tanda kehormatan yang sama, yang merupakan penanda jenjang jabatan dalam hirarki kekaisaran (dan Gereja). Pelbagai konfigurasi stola (termasuk pallium atau omoforion) berasal dari penggunaan syal jabatan ini. Maksud aslinya adalah sebagai tanda pengenal seseorang dalam organisasi tertentu dan untuk untuk menunjukkan pangkat orang tersebut dalam kelompoknya, fungsi inilah yang masih diteruskan oleh stola hingga hari. Jadi, tidak seperti busana liturgis lain yang awalnya dikenakan baik oleh klerus maupun awam, stola merupakan busana yang dikhususkan untuk dikenakan oleh kelas masyarakat tertentu berdasarkan pekerjaannya. PENGGUNAAN Katolik Roma Dalam Gereja Katolik Roma, stola adalah vestimentum yang menandai penerimaan sakramen imamat. Stola diberikan dalam pentahbisan menjadi diakon, yang dengannya seseorang menjadi anggota klerus (kaum tertahbis). Uskup dan imam mengenakan stola dengan cara menyampirkannya pada tengkuk dan membiarkan dua ujungnya menjuntai di bagian depan, sedangkan diakon menyampirkannya pada bahu kiri dan menyilangkan kedua ujungnya di pinggul kanan. Pada masa ketika Misa Tridentina masih digunakan, para imam yang bukan uskup menyilangkan stola di dada (lihat gambar kanan bawah), tetapi bedanya dalam Misa atau upacara-upacara lain bilamana dikenakan pula kasula atau kap. Kini stola dikenakan dengan membiarkan kedua ujungnya menjuntai lurus (Petunjuk Umum Misa Romawi, 340). Pada kesempatan-kesempatan istimewa, Sri Paus mengenakan, sebagai bagian dari pakaian seragamnya, semacam stola khusus yang penuh hiasan serta diberi lambang pribadinya. Anglikan Demikian pula halnya, dalam Gereja-Gereja Komuni Anglikan, stola diberikan pada saat seseorang ditahbiskan menjadi diakon serta disampirkan pada pundak. Dalam pentahbisan imam, sang imam yang baru saja ditahbiskan tersebut menyampirkan stola pada tengkuk dengan kedua ujungnya menjuntai di depan, baik menjuntai lurus atau dengan cara tradisional yakni disilangkan. Klerus injili yang berkeberatan mengenakan stola karena alasan hati nurani, mengikuti praktik reformasi yakni mengenakan syal khotbah (preaching scarf). Protestan Dalam gereja-gereja Protestan, stola sangat sering dipandang sebagai lambang tahbisan dan jabatan pelayanan Firman dan Sakramen. Stola kerap diberikan oleh jemaat (kadang kala berupa stola buatan tangan atau stola yang diberi hiasan) sebagai hadiah pada saat pentahbisan atau perayaan peringatan tahbisan seseorang. Umumnya klerus protestan mengenakan stola dengan aturan yang sama dengan imam Anglikan atau imam Katolik Ritus Latin yakni disampirkan pada tengkuk dan membiarkan kedua ujungnya menjuntai pada dada (dan tidak disilangkan). Stola secara umum dikenakan oleh para petugas pelayanan yang tertahbis dalam Gereja LutheranGereja Methodis, Presbiterian, dan beberapa denominasi protestan lainnya. Dalam Gereja Lutheran Injili di Amerika (ELCA, Evangelical Lutheran Church in America), hanya para uskup dan pastor yang mengenakan stola karena hanya merekalah yang menerima tahbisan, yakni stola imam, karena dalam tradisi Lutheran jabatan uskup bukanlah suatu tahbisan tersendiri melainkan hanya suatu jabatan tertentu saja. Para petugas pelayanan diakonal ELCA (setara dengan diakon) umumnya tidak mengenakan stola, namun kadangkala mengenakan stola diakon tradisional pada saat menjalankan fungsi liturgis tradisional selaku diakon. Dalam Gereja Persatuan Methodis di Amerika Serikat (United Methodist Church), para diakon mengenakan stola dengan cara yang sama seperti diakon-diakon dalam tradisi Anglikan dan Katolik Ritus Latin. Seorang penatua yang tertahbis mengenakan stola dengan cara yang sama dengan imam-imam Anglikan dan Katolik Ritus Latin, karena jabatan penatua dalam gereja ini setara dengan jabatan imam dalam Gereja Anglikan atau Katolik. Gereja-gereja di Indonesia Gereja-gereja di Indonesia menggunakan stola sebagai kelengkapan pakaian ibadah khususnya bagi pejabat gerejawi yang tertahbis; penatua, pendeta, dan diaken. Ada gereja yang sudah sejak lama menggunakan stola tapi ada juga gereja yang baru saja menggunakan stola sebagai kelengkapan pakaian jabatan gerejawi. Warna stola biasanya disesuaikan dengan warna minggu liturgis dan disertakan bordiran simbol liturgi pada ujung stola. Image

(Satu Set Stola Gloria Hasta Karya)

 STOLA GLORIA HASTA KARYA Gloria Hasta Karya menyediakan dan melayani pemesanan stola bagi perlengkapan pakaian jabatan gerejawi. Stola Gloria Hasta Karya dibuat dari bahan yang berkualitas dan dibordir secara professional dengan simbol gerejawi atau atas pesanan gambar khusus. Stola produk Gloria Hasta Karya dijual dalam 1 set (terdiri 5 helai bolak-balik dengan 10 simbol tahun gerejawi). Selain itu simbol pada stola dapat kami layani sesuai pesanan dari konsumen. Pemesanan bisa melalui;

  1. SMS/Phone/Whatsapp: 081391082999
  2. Pin BB: 5230CDC6
  3. Email: yosafataw@yahoo.co.id
November 23, 2011 / togastola

TOGA

Toga, pakaian ala Romawi kuna ini adalah sehelai kain sepanjang kira-kira enam meter (20 kaki) yang dililitkan ke sekeliling tubuh, dan umumnya dikenakan setelah mengenakan tunik. Toga terbuat dari wol, dan tunik kerap terbuat dari linen. Setelah abad ke-2 SM, toga menjadi busana khusus pria, dan hanya warga negara Romawi yang diizinkan mengenakannya. Karena menjadi busana khusus pria, maka kaum wanita mengenakan stola.

SEJARAH

Toga dalam bahasa latin adalah tego yang berarti penutup. Meskipun biasanya dikaitkan dengan bangsa Romawi, toga sebenarnya berasal dari semacam jubah yang dikenakan oleh pribumi Italia, yakni bangsa Etruskan yang hidup di Italia sejak 1200 SM. Toga merupakan busana orang-orang Romawi; sehelai mantel wol tebal yang dikenakan setelah mengenakan cawat atau celemek. Toga diyakini sudah ada sejak era Numa Pompilius, Raja Roma yang kedua. Toga ditanggalkan bila pemakainya berada di dalam ruangan, atau bila melakukan pekerjaan berat di ladang, namun toga dianggap sebagai satu-satunya busana yang pantas bila berada di luar ruangan. Hal ini terbukti dalam riwayat Cincinnatus: dia sedang membajak ladangnya tatkala para utusan Senat datang untuk mengabarinya bahwa dia telah dijadikan diktator, dan begitu melihat mereka dia menyuruh isterinya mengambilkan toganya dari rumah untuk dikenakannya sehingga utusan-utusan itu dapat disambut dengan layak. Sekalipun kebenarannya boleh diragukan, riwayat itu tetap memperlihatkan sentimen Romawi terhadap toga.

Seiring berlalunya waktu, gaya berbusana pun berganti. Bangsa Romawi mengadopsi baju (tunica, atau khiton dalam bahasa Yunani) yang dikenakan orang-orang Yunani dan Etruskan, membuat toga menjadi makin berisi, sehingga lilitannya perlu agak dilonggarkan bila dikenakan. Akibatnya toga menjadi tidak berguna dalam aktivitas-aktivitas yang memerlukan kegesitan, misalnya dalam perang. Oleh karena itu toga digantikan oleh sagum (mantel wol) yang lebih ringan dalam semua kegiatan militer. Di masa-masa damai sekalipun toga akhirnya tergeser oleh laenalacernapaenula, dan macam-macam mantel berkancing atau tertutup lainnya. Meskipun demikian, toga tetap menjadi pakaian sidang kekaisaran sejak sekitar tahun 44 SM.

Proses yang telah menggeser toga dari kehidupan sehari-hari itu, juga telah mengangkat derajat toga menjadi pakaian seremonial, sebagaimana yang sering terjadi dalam dunia busana. Toga dapat pula dikenakan untuk menunjukkan jenjang-jenjang kekuasaan. Seawal abad ke-2 SM, dan mungkin sekali bahkan sebelumnya, toga {beserta calceus) dipandang sebagai lambang Kewarganegaraan Romawi. Toga terlarang bagi orang asing, dan bahkan bagi orang-orang Romawi yang diasingkan. Toga dikenakan oleh para magistratus dalam setiap kesempatan sebagai lambang jabatan mereka. Seorang magistratus yang tampil mengenakan mantel Yunani (pallium) dan kasut akan terlihat sangat tidak sopan di mata semua orang, jika tidak dianggap melakukan tindakan kriminal. Augustus, misalnya, saking murkanya menyaksikan sebuah pertemuan warga tanpa toga, sambil mengutip kata-kata angkuh Virgilus, “Romanos, rerum dominos, gentemque togatam” (“Orang-orang Romawi, para penguasa dunia, ras pemakai toga”), dia bertitah kepada para aedile agar kelak tak seorang pun boleh tampil di Forum atau Sirkus tanpa mengenakan toga.

Karena tidak dikenakan oleh para serdadu, maka toga dipandang sebagai simbol perdamaian. Warga sipil kadang-kadang disebut togatus, “pemakai toga”, bertolak belakang dengan para serdadu pemakai-sagumDe Officiis karya Cicero berisi frase cedant arma togae: secara harafiah berarti, “biarlah lengan takluk pada toga”, maksudnya “biarlah perdamaian menggantikan perang”, atau “biarlah kekuatan militer takluk pada kekuasaan sipil.”

MACAM-MACAM TOGA

Ada bermacam-macam toga, penggunaannya pun berbeda-beda.

  • Toga virilis (toga alba atau toga pura): Toga putih sederhana, untuk acara-acara resmi, dikenakan oleh kaum pria Romawi yang sudah mencapai usia legal, umumnya antara 14 sampai 18 tahun, tetapi dapat pula pada umur berapa saja semasih berusia belasan tahun. Pemakaian perdana toga virilis adalah bagian dari perayaan memasuki usia dewasa.
  • Toga candida: “Toga cemerlang”; toga yang diputihkan dengan kapur sehingga terlihat putih menyilaukan, dikenakan oleh para kandidat jabatan publik. Kebiasaan inilah yang disinggung oleh Persius ketika berbicara tentang cretata ambitio, “ambisi berkapur”. Tampaknya kebiasaan ini dilarang melalui sebuah plebiscita (jajak pendapat) pada 432 SM, namun larangan tersebut tidak pernah dipaksakan. Nama toga ini menjadi sumber etimologis dari kata kandidat.
  • Toga praetexta: Toga putih biasa dengan garis lebar berwarna ungu sepanjang tepinya. Dikenakan oleh
    • Anak-anak lelaki yang terlahir merdeka dan belum akil-balig.
    • Seluruh Magistratus Curulis.
    • Para mantan Magistratus Curulis dan diktator, pada upacara pemakaman dan tampaknya juga pada festival-festival dan perayaan-perayaan lainnya.
    • Sebagian imam (mis. Flamen DialisCollegium PontificumTresviri Epulones, para augur, dan Fratres Arvales).
    • Pada era kekaisaran, hak mengenakan toga praetexta kadangkala diberikan sebagai anugerah kehormatan tanpa memandang jabatan resmi si penerima hak.
    • Menurut tradisi, para Raja Roma.

Orang-orang yang berhak mengenakan toga praetexta kadang-kadang dijuluki laticlavius, “punya garis ungu lebar”. Nama toga ini juga menjadi sumber etimologis dari istilah sastra Romawi, praetexta.

  • Toga pulla: Secara harafiah berarti “toga gelap”. Terutama dikenakan oleh sidang perkabungan, namun dapat pula dikenakan di saat-saat seseorang terancam bahaya atau masyarakat mengalami kecemasan. Toga ini kadang-kadang digunakan sebagai ungkapan protes—tatkala Cicero diasingkan, senat memutuskan untuk mengenakan togae pullae sebagai suatu demonstrasi menentang keputusan pengasingan tersebut. Para magistratus yang berhak mengenakan toga praetexta, hanya mengenakan toga pura sederhana, bukannya pulla.
  • Toga picta: Toga ini, tidak seperti semua toga lainnya, tidak saja diwarnai namun juga dibordir dan diberi hiasan. Toga ini berwarna ungu gelap, dihiasi sulaman dari benang emas. Pada era repubrik, toga ini dikenakan oleh para jenderal dalam parade kemenangan mereka, dan oleh Praetor Urbanus tatkala berkendara dengan kereta para dewa ke dalam sirkus di Ludi Apollinares. Pada era kekaisaran, toga picta dikenakan oleh para magistratus dalam pertujukan gladiator untuk umum, dan oleh para konsul, serta kaisar pada kesempatan-kesempatan istimewa.
  • Toga trabea: Menurut Servius, ada tiga macam trabea: yang pertama trabea ungu, diperuntukkan bagi dewa-dewa; yang kedua trabea ungu dan sedikit putih, bagi raja-raja; dan yang ketiga trabea dengan garis merah manyala dan tepian ungu, bagi para augur dan SaliiDionysius dari Halicarnassus mengatakan bahwa orang-orang dari kelas Equites juga mengenakannya, namun tidak ada bukti lain yang menguatkan pernyataannya.

PENGGUNAAN DEWASA INI

Di beberapa negara, tradisi pesta toga (bahasa Inggristoga party) telah populer dalam beberapa dekade terakhir, umumnya di kolose-kolose dan universitas-universitas.

Kebiasaan ini practice trades on the exaggerated legend of Roman debauchery, dan para undangan yang mengenakan “toga”, yang biasanya dibuat dari seprai. “Toga-toga” semacam ini hanya sedikit kemiripannya dengan toga Romawi kuna karena lebih sederhana dan pendek.

Di Indonesia, jubah yang dikenakan para imam Katolik (bahasa InggrisCassockbahasa PerancisSoutanebahasa ItaliaAbito talare) jubah para pendeta Protestan (bahasa Inggris: Geneva gown), jubah akademik atau jubah wisuda (bahasa InggrisAcademic dress), serta jubah yang dikenakan dalam persidangan (bahasa Inggris: Court dress), disebut juga Toga, meskipun berbeda-beda pola dan bahannya.

TOGA PENDETA

Dasar pemakaian toga bagi pendeta di gereja-gerea Indonesia memang belum jelas alasan teologisnya, tetapi lebih kepada alasan tradisi yang di bawa oleh pekabar Injil dari Eropa. Para pendeta di gereja protestan khususnya Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB), Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), dll, memakai toga sebagai perlengkapan pakaian ibadah di gereja. Masing-masing gereja mempunyai tradisi ataupun peraturan tentang pemakaian toga oleh pendeta. Ada gereja yang mewajibkan pemakaian toga oleh pendeta setiap kali naik mimbar ibadah, ada yang menggunakannya hanya ketika melayankan sakramen ataupun upacara-upacara gerejawi. Secara umum warna toga yang dikenakan para pendeta ada dua, yaitu hitam dan putih.

TOGA  GLORIA HASTA KARYA

Sudah sekitar 10 tahun ini, Gloria Hasta Karya menyediakan perlengkapan pelayanan khususnya bagi pendeta. Secara khusus Gloria Hasta Karya melayani pemesanan pembuatan toga pendeta. Toga produksi Gloria Hasta karya ada 3 macam tipe dengan variasi harga sesuai pilihan, yaitu;

  1. Type SW 1
  2. Type SW 2
  3. Type SW 3
 (tampak depan)  (tampak belakang)
Pemesanan bisa melalui:
  1.       SMS/Phone/Whatsapp: 081391082999

 2.        BBM PIN: 5230CDC6

3.        email: yosafataw@yahoo.co.id
Pemesanan dengan mengirim ukuran toga:

  1. Lingkar pinggang
  2. Lingkar dada
  3. Lingkar panggul
  4. Lebar bahu
  5. Panjang lengan
  6. Lebar lengan
  7. Panjang toga
  8. Lingkar leher

(Sumber Utama: http://www.wikipedia.or.id)

November 21, 2011 / togastola

KALENDER GEREJAWI DAN SIMBOL

Hari-hari raya gerejawi adalah hari-hari khusus yang dirayakan oleh gereja/umat Kristen di seluruh dunia dalam rangka memelihara iman kristen dan menyaksikan karya penyelamatan Allah kepada dunia melalui Anak-Nya Yesus Kristus, Juruselamat dunia. Dalam tahun gerejawi, yang menonjol adalah hari raya Natal dan hari raya Paskah. Kedua hari raya ini merupakan hari-hari penentu bagi keseluruhan tahun gerejawi (Natal, Kesengsaraan, Paskah, Kenaikan, dan Pentakosta).

Dalam tahun gerejawi, warna memegang peranan penting. Setiap masa memiliki warna tersendiri, sehingga pelaksanaan tahun gerejawi disertai dengan penggunaan warna. Penggunaan warna kemudian diikuti dengan penggunaan simbol-simbol gerejawi, sehingga tahun gerejawi ditandai dengan simbol dan warna tertentu.

1. ADVEN

Dari kata latin “Adventus” yang berarti kedatangan, yaitu kedatangan Tuhan Yesus (pada akhir zaman). Karena itu, masa Adven adalah masa penyadaran diri dan pertobatan. Selama Adven, pembacaan Alkitab ditekankan pada pembacaan nubuat-nubuat Perjanjian  Lama tentang kedatangan Mesias. Masa Adven yaitu empat (4) minggu sebelum tanggal 25 Desember.

Image

Warna Liturgi untuk masa Advent : Ungu atau merah lembayung.

Simbol                         : Salib-Jangkar

Warna dasar               : ungu muda

Warna jangkar            : kuning

Arti:

Salib-Jangkar ini digunakan oleh orang Kristen mula-mula yang tinggal di katakombe (Goa bawah tanah untuk tempat persembunyian). Lambang ini adalah warisan bangsa Mesir kuno, namun kemudian menjadi lambang universal yang menunjuk pada penderitaan Kristus. Salab-Jangkar melambangkan pengharapan umat percaya di dalam masa kedatangan Kristus yang kedua.

2. NATAL

Natal adalah masa yang dimulai pada hari Natal dan berakhir selama 12 hari sampai tanggal 5 Januari malam, sebelum Epifania. Sejak akhir abad IV Natal dirayakan setiap tanggal 25 Desember sebagai peringatan kelahiran Kristus. Semula tanggal 25 Desember oleh dunia kafir dirayakan sebagai pesta Sol Invictus (matahari yang tak terkalahkan). Dengan merayakan 25 Desember sebagai kelahiran Kristus, gereja ingin menyatakan bahwa Terang yang baru, Matahari Kebenaran (Sol Institae), yang dinubuatkan nabi Maleakhi (Mal.4:2) adalah Kristus, Juru Selamat dunia yang datang dari Allah.

Image

Warna liturgi untuk masa Natal: putih

symbol                        : palungan dan pelangi

Warna dasar                : putih

Warna pelangi              : merah, kuning, hijau

Warna palungan           : kuning

Arti:

Pelangi merupakan symbol kesetiaan dan cinta kasih Allah kepada dunia; Allah tidak akan menghancurkan bumi lagi (ingat air bah pada jaman Nuh). Pelangi juga mengingatkan kita tentang kesungguhan Allah untuk memenuhi janjiNya. Palungan memberi arti lawatan Allah kepada manusia yang nyata dalam diri anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus sebagai Juru Selamat manusia. Pelangi dan palungan mengungkapkan kasih dan kesetiaan Allah terhadap dunia.

3. EPIFANIA

Epifania berarti “membuat nyata/jelas”. Masa Epifania dimulai pada tanggal 6 Januari, lamanya bervariasi tergantung penetapan Paskah. Selambat-lambatnya masa Epifania berlangsung sampai Minggu Septuagesima, 64 hari sebelum Paskah. Gereja protestan merayakan Epifania sebagai hari penampakan Yesus setelah dibaptis atau hari perjamuan kudus yang pertama. Ibadah-ibadah ditekankan pada pernyataan Yesus sebagai “Terang bagi bangsa-bangsa kafir”.

Image

Warna liturgy untuk masa Epifania : Putih

Simbol               : Bintang besegi lima didalam lingkaran

Warna dasar       : hijau

Warna bintang    : putih

Warna lingkaran : kuning

Arti:

Bintang adalah lambang cahaya dalam kegelapan. Bintang bersegi lima ini lebih dikenal dengan bintang Yakub yang menunjuk pada terbitnya bintang dari keturunan Yakub (bil. 24:17). Terbitnya bintang ini kemudian dinyatakan melalui kelahiran Yesus yang ditandai pula dengan munculnya bintang di timur (Mat. 2:1-2). Kristus disebut sebagai “Bintang Kejora”, “Bintang Timur” (Why. 22:16) yang gilang gemilang, yang menjadi cahaya dalam kehidupan kita.

4. MINGGU PRA-PASKAH

Masa Pra-Paskah dirayakan tujuh (7) minggu sebelum Paskah. Selama masa Pra-Paskah jemaat melakukan puasa. Di beberapa gereja masa ini diisi dengan puasa solidaritas untuk diakonia.  Minggu Pra-Paskah merupakan masa untuk mawas diri dan bertobat dengan mengenang pengorbanan Kristus di kayu salib; masa untuk merenungkann ulang undangan hidup baru di dalam Kristus.

Image

Warna liturgy untuk masa pra-Paskah adalah ungu atau hijau, dan pada hari Jumat Agung diganti warna hitam.

Symbol                            : Ikan (Ichtus)

Warna                              : Ungu tua

Warna tepi ikan dan huruf  : kuning

Tulisan di bawah ikan         : Yesus Kristus, Anak Allah, Juru Selamat.

Arti:

Ichtus adalah suatu sandi rahasia di kalangan orang Kristen mula-mula (terdapat dalam katakombe) yang mengalami penganiayaan. Dalam bahasa Yunani kata Ichtus berarti ikan dan merupakan huruf-huruf awal dari nama-nama Yunani bagi Kristus: Iesous Christos Theou Uios Soter yang artinya Yesus Kristus, Anak Allah, Juru Selamat.

5. JUMAT AGUNG

Jumat Agung di rayakan untuk memperingati kesengsaraan dan kematian Yesus di kayu salib di Golgota untuk menyelamatkan manusia. Jumat Agung adalah hari yang muram, hari untuk berefleksi diri atas segala dosa yang telah dilakukan dan kesediaan untuk bertobat.

Image

Warna liturgi Jumat Agung :  hitam.

Symbol                        : salib dan mahkota duri

Warna dasar               : hitam

Warna salib                 : putih

Wana mahkota           : kuning

Arti:

Salib merupakan lambang yang sudah sangat dikenal untuk menunjuk pada penderitaan Kristus.hukuman salib adalah hukuman mati yang sangat hina pada jaman kuno di Timur Tengah, kemudian digunakan juga oleh bangsa Romawi. Salib dan mahkota duri menunjukkan penghinaan dan kekejaman manusia terhadap Yesus sampai pada kematian-Nya di kayu salib.

6. PASKAH

Paskah dirayakan sebagai hari kebangkitan Kristus yang merupakan dasar kekristenan. Masa Paskah dimulai pada Minggu Paskah dan dilanjutkan selama 50 hari sampai Pentakosta. Paskah dari kata Ibrani “pesah” yang berarti “melewati” atau “berlalu”, bagi orang percaya berarti berlalunya kuasa dosa dalam hidupnya.

Image

Warna liturgy untuk Paskah  : putih

Symbol                               : bunga lily (putih)

Warna dasar                        : putih

Arti:

Bunga lily merupakan symbol kekekalan. Untuk tumbuh menjadi pohon, umbi bunga lily harus ditanam dan mati di dalam tanah, sesudah itu baru tumbuh kehidupan baru. Lewat Paskah orang percaya telah menerima kehidupan baru yang kekal karena penderitaan dan kematian serta kebangkitan Kristus.

7. KENAIKAN

Dengan kenaikan-Nya ke sorga, Kristus diakui sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan. Yesus yang mati dan bangkit telah ditinggikan Allah, sehingga mengambil bagian dalam kemuliaan, kekuasaan, dan pemrintahan Allah secara penuh.

Image

Warna liturgy untuk kenaikan: putih

Symbol : salib dan mahkota kemuliaan

Warna dasar : putih

Warna mahkota dan salib : kuning

Arti:

Melalui penderitaan dan kematian Kristus, mahkota duri yang diletakkan di kepala-Nya diganti   dengan  mahkota  kemuliaan  yang dinyatakan melalui kenaikan-Nya. Setiap orang yang percaya kepada-Nya akan memperoleh mahkota kehidupan (Why. 2:10).

8. PENTAKOSTA

Pentakosta artinya hari kelima puluh (sesudah paskah). Pentakosta dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus dan hari kelahiran gereja.

Image

Warna liturgy untuk hari Pentakosta: hijau.

Symbol : burung merpati (7ekor), atau lidah api (7buah) dan seekor burung merpati yang menukik.

Warna dasar               : merah

Warna merpati            : perak

Warna lidah api           : kuning pada tepinya

Arti:

Ketujuh ekor burung merpati atau ketujuh lidah api melambangkan ke tujuh Roh Allah (Why. 4:5) membentuk lingkaran yang menghadirkan kekekalan. Kewtujuh ekor burung merpati atau ketujuh lidah api itu juga melambangkan tujuh buah karunia Roh Kudus (Why. 5:12 atau Yes. 12:2-3). Merpati yang menukik dan lidah api menunjuk pada peristiwa pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta.

9. MINGGU PENTAKOSTA / MINGGU TRINITAS KE-1

Minggu Pentakosta diikuti oleh masa Trinitas, yang dimulai dengan Minggu Trinitas seminggu kemudian. Hari Minggu Trinitas dirayakan satu minggu sesudah hari Pentakosta (minggu I sesudah Pentakosta) untuk menyaksikan Allah yang esa. Dalam hari raya ini pernyataan Allah dan kekudusan keesaan-Nya menjadi pusat ibadah jemaat.

Image

Warna liturgy Minggu Pentakosta / Minggu Trinitas ke-1: putih

Symbol                 : lingkaran segitiga / triquetra

Warna dasar         : putih

Warna lambang    : merah

Arti:

Lambang lingkaran segitiga merupakan lambang ketritunggalan yang mula-mula. Tiga buah lekukan yang tidak terputus, saling bersambung, menyatakan kekekalan dari ketritunggalan tersebut. Pada pusat ketiga lekukan tersebut terbentuk segi tiga yang merupakan symbol Tri tunggal.

10. MINGGU SESUDAH MINGGU PENTAKOSTA / MINGGU TRINITAS

Minggu sesudah Pentakosta dirayakan selama 25 minggu. Masa ini disebut Masa Gereja Berjuang. Minggu sesudah Pentakosta untuk mengingatkan kita akan perjuangan hidup gereja sepanjang masa. Dalam perjuangan itu Allah menyertai gereja-Nya.

Image

Simbol,  burung merpati dengan ranting zaitun diparuhnya, perahu layar, dan pelangi.

Warna dasar               : hijau

Warna pelangi             : merah, kuning, hijau

Warna burung              : putih

Warna ranting              : pinggir putih

Warna tiang dan layar   : putih (penuh)

Warna salib                 : hijau

Warna ombak              : putih

Warna perahu              : bergaris putih

Arti:

Perahu merupakan symbol gereja. Ide ini sangat berarti bagi orang Kristen mula-mula yang mengalami penganiayaan dan pergumulan. Mereka percaya bahwa Tuhan menjadi penolong dalam penganiayaan dan pergumulan itu. Hal tersebut ternyata dari perpaduan antara pelangi dan perahu. Dalam symbol ini janji Allah untuk memelihara gereja dan dunia mendapat tekanan yang kuat. Burung merpati dengan ranting zaitun di paruhnya mengungkapkan tentang janji keselamatan dan kehidupan dari Allah yang akan terus menyertai gereja sampai di tujuan.

PEMBAGIAN MINGGU MENURUT TAHUN GEREJAWI

Pembagian minggu-minggu menurut tahun gerejawi yang diikuti oleh gereja pada umumnya, adalah sebagai berikut :

NO

HARI

ARTI/MAKSUD

MASA

WARNA

SIMBOL

1

Minggu Advent

Minggu persiapan Natal

Empat minggu sebelum tanggal 25 Desember

Ungu

Salib jangkar

2

Hari Raya Natal

Hari Kelahiran Kristus

Tanggal 25 desember

Putih

Palungan dan pelangi

3

Minggu Epifania

Hari pernyataan Yesus secara khusus baptisan-Nya

S/d tanggal 06 Januari

Hijau

Bintang bersegi lima

4

Masa Prapaskah

Persiapan Paskah

Tujuh minggu sebelum Paskah

Ungu atau hitam

Ikan (Ichtus)

5

Jumat Agung

Kematian Kristus

Hari Jumat sebelum Paskah

Hitam atau merah

Salib dan mahkota duri

6

Paskah

Kebangkitan Kristus

Hari minggu Paskah

Putih

Bunga lili

7

Kenaikan Kristus

Kenaikan Kristus ke surga

Empat puluh hari sesudah Paskah

Putih

Salib dan mahkota kemuliaan

8

Pentakosta

Turunnya Roh Kudus

Sepuluh hari sesudah kenaikan

merah

Lidah api dan burung merpati

9

Minggu Pentakosta/Minggu Trinitas ke-1

Hari untuk menghayati ketritunggalan Allah

Satu minggu sesudah hari Pentakosta

Putih

Triquetra

10

Hari-hari Minggu sesudah Trinitas ke-2 sampai ke-26

Masa gereja Berjuang

25 minggu sesudah minggu Pentakosta/Minggu Trinitas I

Hijau

Burung merpati dengan ranting-ranting zaitun di paruhnya, perahu berlayar, dan pelangi.

Keterangan secara rinci minggu-minggu tersebut sebagai berikut (kata yang dicetak miring menunjukkan arti minggu tersebut atau introitus dalam bahasa latin) :

  1. Minggu advent : empat minggu sebelum tanggal 25 Desember
  2. Hari raya Natal : tanggal 25 desember
  3. Minggu Epifania (hari pernyataan Yesus secara khusus : baptisan-Nya s/d tanggal 6 Januari).
  4. Minggu Septuagesima (ketujuh puluh: 70 hari sebelum Paskah).
  5. Minggu Sexagesima (keenam puluh :60 hari sebelum Paskah).
  6. Minggu Quinquagesima (kelima puluh : 50 hari sebelum Paskah).
  7. Minggu Esto Mihi (Minggu Sengsara I) “Jadilah bagiku” Maz. 31:3.
  8. Minggu Invocavit (Minggu Sengsara II) “Bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawab …” (maz. 91:15).
  9. Minggu Reminiscere (Minggu Sengsara III) “Ingatlah segala rahmatMu dan kasih setiaMu, ya Tuhan”. (Maz. 25:6).
  10. Minggu Oculi (Minggu Sengsara IV) “Mataku tetap terarah kepada Tuhan …. (Maz. 25:15).
  11. Minggu Laetare (Minggu Sengsara V) “Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem ….” (Yesaya 66:10).
  12. Minggu Judica (Minggu Sengsara VI) “Berilah keadilan kepadaku, ya Allah ….” (Mazmur 43:1).
  13. Minggu Palmarum (Minggu Sengsara VII).
  14. Hari Raya Paskah : Kebangkitan Kristus.
  15. Minggu Quasimodogeniti (Minggu Paskah ke-1) “ Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir … “ (II Petrus 2:2).
  16. Minggu Misericordias Domini (Minggu paskah ke-2) “ … bumi penuh dengan kasih setia Tuhan “ (Mazmur 33:5).
  17. Minggu Yubilate (Minggu Paskah ke-3) “Bersorak-soraklah bagi Allah, hai seluruh bumi …” (Mazmur 66:1).
  18. Minggu Cantatae (Minggu Paskah ke-4) “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan … “ (Mazmur 98:1).
  19. Minggu Rogate (Minggu Paskah ke-5) “Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku …” (Mazmur 66:20).
  20. Peringatan Kenaikan Yesus ke sorga.
  21. Minggu Exaudi “Dengarlah Tuhan, seruan yang kusampaikan ….” Mazmur 27:7.
  22. Pentakosta : hari turunnya Roh Kudus.
  23. Minggu Pentakosta/Minggu Trinitas ke-1.
  24. Minggu Trinitas ke-2 – ke-26.

( yaw: dari berbagai sumber )

November 21, 2011 / togastola

SEJARAH SIMBOL

Image

ASAL MULA SIMBOL

Hidup manusia sejak lahir sampai meninggal dipenuhi dengan upacara, dengan berbagai macam simbol yang menyertainya. Hal ini jelas dalam tradisi Jawa, misalnya dirumah orang yang meninggal dipasang lampu teplok atau lampu listrik yang tetap dinyalakan. Maksudnya ialah, agar orang yang meninggal mendapat jalan yang terang sampai di tujuan, kembali kepada Tuhan. 

Bagi orang Tionghoa, air dianggap sebagai simbol keberuntungan, karena air disamakan dengan simbol harta dan kekayaan. Adanya air yang mengalir melewati pintu/gerbang utama rumah, sama seperti menerima berlimpah ruahnya harta dan kekayaan. 

Istilah simbol tidak kita jumpai dalam Alkitab. Untuk kata yang sama, Alkitab perjanjian lama menggunakan istilah tanda. Tanda dilihat sebagai suatu obyek yang dapat difungsikan, diberi arti, sehingga seseorang dapat memahaminya dengan jelas. Simbol itu dapat berlaku untuk orang, benda, gerakan atau peragaan yang dibuat oleh manusia.

A.    Manusia sebagai Simbol

Dalam dunia purbakala, seseorang dapat berlaku sebagai simbol bagi kumpulan atau kelompok :

  • Raja Daud adalah simbol (sama dengan) sepuluh ribu orang tentara (II Samuel 18 :3).
  • Musa sebagai simbol bagi raja Firaun, dan sebagai tanda kehadiran Allah  (Keluaran 7:1)

 B.    Benda-benda sebagai simbol

Benda-benda juga disimbolkan sebagai alat-alat yang bermanfaat, baik dalam komunikasi maupun dalam arti iman jaminan perjanjian misalnya :

  • pelangi memiliki arti tanda jaminan anugerah Allah (Kejadian 9:1)
  • tabut perjanjian, dimana sepuluh Hukum Tuhan terdapat di dalamnya, adalah tanda kehadiran Allah.

 C.    Gerakan atau Peragaan sebagai simbol

Gerakan atau peragaan adalah sesuatu yang hidup dan dapat dipahami dengan lebih baik :

  • Menanggalkan kasutnya sebelah dan memberikannya kepada orang lain adalah tanda bahwa seseorang menyerahkan seluruh hak pribadinya.
  • Seorang Tuan yang menusuk telinga calon hambanya, berarti calon hamba tersebut bersedia mengabdikan diri seumur hidupnya kepada tuan yang memilikinya (Kel. 21:6).

 Sedangkan dalam Alkitab Perjanjian Baru, ada situasi yang berbeda dalam pemahamannya tentang simbol. Yesus membuat simbol untuk menanamkan pengertian bagi orang-orang disekitar-Nya, misalnya Perjamuan Kudus, walaupun artinya lebih daripada simbol; domba.

 Gereja atau sinagoge banyak menggunakan simbol atau pertanda dalam kaitannya dengan kesenian seperti seni tulis dan seni gambar, misalnya :

  • warna laut, dan langit sebagai simbol tempat singgasana Allah.
  • Anggur adalah tanda pesta di surga.
  • Jangkar adalah tanda suatu harapan (Ibrani 6:19)
  • Bunga Mawar dan bunga lain di makam menunjukkan tempat istirahat di paradiso (surga).

Dapat dikatakan, bahwa simbol, tanda, dan perumpamaan berhubungan dengan kebudayaan dan komunikasi dari satu tradisi bangsa. Dengan simbol itu hendak dinyatakan maksudnya yang transenden, yang ilahi yang diharap dapat mempengaruhi manusia dalam menyatakan ibadahnya kepada Tuhan sekaligus perhatiannya kepada semua.

GEREJA MULA-MULA DAN SIMBOL

Gereja Ortodoks atau gereja lama kaya dengan penggunaan simbol-simbol. Simbol-simbol ini merupakan suatu kenyataan yang memiliki kekuatan dan kemampuan sebagai pernyataan Allah kepada manusia. Simbol-simbol ini adalah tanda-tanda yang dapat membantu kita memasuki suatu dunia yang bersifat abadi dan ilahi untuk menghayati kehidupan dengan Tuhan dan sesama.

Warna dan angka sudah lama kita kenal memiliki makna tertentu, juga dalam kehidupan bergereja. Berbagai macam benda yang terdapat di dalam Alkitab, bahkan yang tidak terdapat didalam  Alkitab pun, digunakan oleh gereja untuk melambangkan sesuatu, seperti : roti, anggur, gandum, minyak, air, pelangi, perahu, bunga, dan buah-buahan; burung pelikan, telur, pohon cemara, lilin. Warna, angka, dan benda-benda itu digunakan sebagai tanda kasih, kemurahan, kebaikan, kehidupan dan kehadiran Allah yang sesungguhnya dalam kehidupan manusia. Semuanya merupakan ungkapan kehadiran dan perbuatan Allah yang didalam Kristus melakukan karya penyelamatanNya kepada manusia dan dunia. Inilah yang menjadi alasan mengapa warna, angka, dan benda-benda itu dijadikan simbol dalam kehidupan bergereja.

Memang yang namanya simbol tidak dapat menjelaskan dengan sempurna apa yang disimbolkan atau dilambangkan. Namun demikian, seseorang ditolong untuk mengerti dengan lebih baik apa yang disimbolkan itu.

Simbol yang sudah digunakan oleh gereja sejak abad-abad pertama dimaksudkan :

  • sebagai tanda rahasia diantara orang-orang percaya selama masa penganiayaan.
  • Sebagai cara bagi orang-orang percaya untuk mengingat pemerintahan Allah atas semua ciptaan.
  • Sebagai suatu harta kebeneran-kebenaran pengajaran Injil yang tak mampu dibaca secara hurufiah.
  • Sebagai suatu harta  kekayaan untuk mengingat perbuatan Allah yang ilahi dalam sejarah umat manusia.

 Penghormatan pada masa-masa tahun gerejawi adalah suatu bentuk pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan atas waktu. Menggunakan simbol dalam gereja adalah suatu cara memproklamasikan bahwa bumi ini adalah milik Tuhan dan bahwa Dia adalah penguasa atas sejarah umat manusia. Simbol adalah suatu sarana untuk membawa kesadaran spiritual kita keluar dari kesucian dan masuk kedalam dunia yang diciptakan Allah ini, masuk ke dalam pengalaman umat manusia sendiri dalam hubungannya dengan Allah.

( yaw: dari berbagai sumber )